ESTORIA – Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah muncul arahan terbaru dari pucuk pimpinan Iran. Mojtaba Khamenei dilaporkan menginstruksikan komando angkatan bersenjata gabungan untuk melanjutkan operasi militer dan menghadapi pihak yang dianggap musuh dengan sikap tegas.
Arahan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan jajaran militer, termasuk Komandan Markas Besar Pusat Khatam Al Anbiya. Dalam laporan media pemerintah Iran, pihak militer memastikan bahwa skenario dan rencana strategis telah disiapkan untuk merespons potensi tindakan dari Amerika Serikat dan Israel.
Kantor berita resmi Iran juga menyebutkan bahwa komandan militer Ali Abdullahi telah bertemu langsung dengan Khamenei. Dalam pertemuan itu, sang pemimpin disebut memberikan apresiasi terhadap kesiapan angkatan bersenjata, sekaligus menegaskan adanya “langkah-langkah baru” untuk memperkuat respons terhadap ancaman eksternal, meski detail kebijakan tersebut tidak diungkap ke publik.
Menariknya, sejak ditunjuk pada Maret lalu, Mojtaba Khamenei belum pernah tampil secara terbuka. Seluruh pernyataannya sejauh ini disampaikan melalui media pemerintah, memicu spekulasi mengenai dinamika internal kepemimpinan Iran.
Di sisi lain, ketegangan regional kian meningkat. Uni Emirat Arab melaporkan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat dua drone yang disebut berasal dari Iran pada 10 Mei 2026. Bahkan, sejak awal eskalasi yang mereka sebut sebagai “serangan terang-terangan Iran”, pihak UEA mengklaim telah menahan ratusan serangan, terdiri dari 551 rudal balistik, 29 rudal jelajah, dan lebih dari 2.200 drone.
Reaksi keras juga datang dari Qatar. Pemerintah negara tersebut mengecam serangan terhadap kapal kargo komersial di perairan dekat Pelabuhan Mesaieed. Kapal yang berlayar dari Abu Dhabi itu dilaporkan terkena serangan drone pada Minggu pagi, memicu kebakaran kecil tanpa menimbulkan korban jiwa.
Melalui Kementerian Luar Negeri, Qatar menyebut insiden itu sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan kebebasan navigasi. Mereka juga memperingatkan bahwa serangan terhadap kapal sipil merupakan ancaman nyata terhadap stabilitas kawasan dan keamanan jalur distribusi global.














