ESTORIA – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kian terasa di awal pekan. Sejumlah bank besar di Indonesia mulai mematok harga jual dolar Amerika Serikat (AS) di atas level Rp17.700 per dolar, seiring tren pelemahan rupiah yang belum mereda pada Senin (11/05/2026).
Mengacu pada data Bloomberg, kurs rupiah di pasar spot global tercatat menyentuh Rp17.417 per dolar AS pada pukul 11.30 WIB. Angka ini menunjukkan depresiasi dibandingkan posisi akhir pekan lalu yang masih berada di kisaran Rp17.382 per dolar AS.
Kenaikan kurs dolar juga tercermin dalam penyesuaian harga di perbankan nasional. HSBC Indonesia menjadi salah satu yang mencatatkan kurs jual tertinggi, khususnya untuk layanan uang kertas (bank notes), yang mencapai Rp17.705 per dolar AS. Sementara itu, untuk transaksi transfer, bank tersebut menetapkan kurs jual di level Rp17.630 per dolar AS.
Di sisi lain, bank-bank besar lainnya turut melakukan penyesuaian. Bank Central Asia (BCA) menetapkan kurs e-rate jual di kisaran Rp17.435 per dolar AS, dengan kurs transaksi counter dan bank notes menyentuh Rp17.570 per dolar AS.
Hal serupa juga terlihat di Bank Rakyat Indonesia (BRI), yang mematok kurs e-rate jual sebesar Rp17.430 per dolar AS, serta Rp17.510 per dolar AS untuk transaksi counter. Sementara Bank Negara Indonesia (BNI) mencatat kurs jual pada kisaran Rp17.428 per dolar AS untuk special rates, dan Rp17.475 per dolar AS di counter.
Secara umum, selisih (spread) kurs digital yang ditawarkan perbankan masih relatif sejalan dengan pergerakan di pasar spot. Namun, untuk transaksi langsung di counter maupun pembelian uang kertas, spread mulai terlihat melebar, mencerminkan meningkatnya tekanan di pasar valuta asing domestik.
Kondisi ini menjadi sinyal bahwa pelemahan rupiah belum menemukan titik stabil, sekaligus menandakan meningkatnya permintaan terhadap dolar AS di tengah ketidakpastian pasar global.














