“Kalau dijelaskan panjang lewat tulisan, banyak yang kesulitan memahami. Akhirnya kami buat video sederhana,” katanya.
Cara itu terbukti efektif. Para lansia yang awalnya kesulitan menggunakan aplikasi pesan singkat maupun panggilan video perlahan mulai bisa beradaptasi selama berada di Tanah Suci.
Cerita serupa datang dari Suwaris Bahir, jemaah asal Sumenep yang sehari-hari bekerja di sektor perikanan. Ia mengaku sejak awal mantap memilih jalur haji mandiri karena merasa pembekalan manasik dari pemerintah sudah cukup membantu.
“Mulai dari naik pesawat, fasilitas hotel, sampai jalur masuk Masjidil Haram dijelaskan semua,” ujarnya.
Menurut Suwaris, pendampingan petugas kloter selama di Tanah Suci juga membuat para jemaah merasa lebih tenang. Bahkan, ia menilai jalur mandiri memberi ruang lebih fleksibel dibanding mengikuti KBIHU.
“Kalau saya pribadi, pelayanannya lebih dari cukup,” ucapnya.
Sementara itu, kisah haru datang dari E.A.A. Nurhayati Haddjad, seorang dosen asal Sumenep yang berangkat haji menggantikan almarhum ayahnya. Porsi haji yang awalnya milik sang ayah dilimpahkan kepadanya setelah ayahnya meninggal dunia.
Di tengah kesibukan mengajar dan merawat ibunya yang sedang sakit stroke, Nurhayati tetap mempersiapkan diri secara perlahan sebelum berangkat ke Tanah Suci. Ia rutin berjalan kaki mengelilingi desa dan taman kota demi menjaga stamina.