“Kadang jalan sambil lihat sawah atau ladang saja,” katanya sambil tersenyum.
 

Selain latihan fisik, Nurhayati aktif mencari informasi lewat media sosial dan grup jemaah. Menurutnya, akses digital sangat membantu jemaah mandiri memahami situasi terbaru selama di Arab Saudi.

 

Namun, yang paling membekas baginya justru suasana kebersamaan antarsesama jemaah. Pada malam hari, ia kerap membantu anggota rombongan lain mengisi identitas atau membaca dokumen perjalanan.
 

“Dari situ malah jadi dekat satu sama lain,” ujarnya.
 

Ketua Kloter SUB 77, Asnawi, mengungkapkan bahwa kekompakan jemaah mandiri memang dibangun jauh sebelum keberangkatan. Menurutnya, mendampingi rombongan tanpa KBIHU membutuhkan pendekatan yang lebih intens, terlebih sebagian besar anggota kloter merupakan lansia.
 

Karena itu, para petugas lebih dulu membangun koordinasi internal sebelum mengumpulkan ketua regu dan ketua rombongan untuk menyamakan pemahaman.
 

“Kami tanamkan bahwa setiap ketua rombongan adalah kiai bagi kelompoknya masing-masing,” ujar Asnawi.
 

Pendekatan itu diperkuat dengan kunjungan rutin ke desa-desa hingga wilayah kepulauan di Sumenep selama beberapa bulan sebelum keberangkatan. Petugas datang langsung memberikan simulasi manasik, tambahan pemahaman, sekaligus membangun kedekatan emosional dengan para calon jemaah.
 

Kini, hasilnya mulai terlihat di Makkah. Di tengah jutaan manusia dari berbagai negara, para jemaah mandiri asal Sumenep itu justru tampil lebih tertib, kompak, dan saling menjaga satu sama lain selama menjalankan ibadah haji.