Dalam forum yang sama, Rafly menyebut uang yang diterima berasal dari pihak kepolisian dan diberikan dengan tujuan mengubah titik aksi demonstrasi.

 

Menurut dia, awalnya massa mahasiswa telah sepakat menggelar aksi di kawasan Istana Negara. Namun di tengah proses konsolidasi muncul komunikasi yang meminta agar lokasi aksi dipindahkan ke Gedung DPR RI.

 

“Terkait siapa yang kasih itu, pertama pihak kepolisian. Kita melakukan konsolidasi hari Jumat dan disepakati di Istana Negara. Di tengah jalan ada telepon masuk untuk menggeser titik aksi ke DPR. Jadi uang itu diserahkan kepada Abdi untuk menggeser titik aksi,” ujar Rafly.
 

Meski demikian, ia menegaskan bahwa aliansi mahasiswa tetap melaksanakan aksi sesuai rencana awal di kawasan Silang Selatan Monas dan tidak membatalkan demonstrasi.
 

Pernyataan tersebut memicu reaksi keras di lingkungan kampus dan menimbulkan pertanyaan mengenai dugaan intervensi terhadap gerakan mahasiswa.
 

Mahasiswa Tuntut Mundur dan Bentuk Tim Investigasi

 

Pasca pengakuan tersebut, sejumlah organisasi mahasiswa dan sivitas akademika UBK menyusun sedikitnya 10 tuntutan yang ditujukan kepada para pihak yang disebut terlibat.