estoria.id - Gemerlap Karnaval Malam Merdeka menyelimuti kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Senin malam, 17 Agustus 2026. Puluhan kendaraan hias bergerak perlahan di tengah lautan warga yang memenuhi sisi jalan untuk merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sebanyak 32 kendaraan hias ambil bagian dalam arak-arakan tersebut. Musik, sorak-sorai, ornamen merah putih, hingga berbagai simbol program pemerintah membuat suasana malam itu berlangsung meriah.
Namun, di antara parade yang semestinya menjadi panggung perayaan kemerdekaan, satu kendaraan justru menghadirkan pemandangan yang memiliki makna berbeda.
Kendaraan milik Badan Gizi Nasional (BGN) melintas sebagai salah satu peserta karnaval. Mobil hias yang membawa representasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) itu berada di urutan ketiga.
Di atas kendaraan, sejumlah petugas terlihat membagikan ompreng makanan berwarna perak kepada warga.
Begitu kendaraan BGN mendekat, kerumunan sontak bergerak maju.
Warga berebut mendapatkan ompreng yang dibagikan. Sebagian orang bahkan mengangkat tangan setinggi mungkin agar bisa memperoleh satu. Ada pula orang tua yang menggendong anak mereka, berharap petugas di atas kendaraan melihat dan memberikan ompreng tersebut.
Pemandangan itu memperlihatkan antusiasme publik yang masih begitu besar terhadap simbol program MBG.
Tetapi di balik kemeriahan tersebut, terdapat cerita lain yang jauh lebih sunyi.
Di sejumlah rumah sakit di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, masih ada anak-anak yang harus menjalani perawatan setelah diduga mengalami keracunan usai menyantap makanan MBG.
Bagi mereka, ompreng bukan sekadar wadah makanan.
Benda yang dalam karnaval malam itu diperebutkan warga justru dapat mengingatkan sebagian korban pada pengalaman yang membuat mereka trauma.
Ketika Ompreng Tak Lagi Identik dengan Makanan
Trauma itu terlihat ketika Kepala BGN Sudaryono mendatangi Rumah Sakit Efarina Etaham, Berastagi, Kabupaten Karo, Minggu, 16 Agustus 2026.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi para pelajar yang masih menjalani perawatan setelah dugaan keracunan MBG.
Lebih dari 200 siswa di wilayah Berastagi dan Kabanjahe disebut terdampak dalam rangkaian kejadian tersebut. Hingga Minggu siang, sebanyak 64 anak masih menjalani perawatan intensif.
Di tengah kunjungan itu, seorang siswa menyampaikan kalimat pendek yang menggambarkan besarnya ketakutan yang ia rasakan.
“Nggak mau lagi aku makan MBG, Pak!”
Kalimat tersebut bukan sekadar penolakan terhadap makanan.
Di baliknya ada pengalaman seorang anak yang sebelumnya mengonsumsi makanan yang seharusnya menjadi bagian dari program pemenuhan gizi, tetapi kemudian harus berhadapan dengan kondisi kesehatan yang membuatnya dirawat di rumah sakit.
Bagi sebagian korban, pengalaman tersebut bahkan membuat makanan yang disajikan menggunakan nampan atau ompreng menjadi sesuatu yang menimbulkan kecemasan.
Ironisnya, pada malam yang sama ketika sebagian warga di Jakarta berebut ompreng sebagai bagian dari simbol program pemerintah, sebagian korban di Sumatera Utara masih berusaha memulihkan rasa percaya mereka terhadap makanan MBG.
Tangis Ibu di Hadapan Kepala BGN
Kisah lain muncul dari seorang ibu yang menemui Sudaryono di RS Efarina Etaham.
Dengan suara bergetar dan air mata yang terus mengalir, perempuan tersebut mempertanyakan kondisi anaknya.
Anaknya, seorang siswa SMA Negeri 1 Berastagi, disebut mulai mengalami sesak napas sejak Kamis. Kondisi tersebut membuatnya harus menjalani perawatan selama tiga hari di Rumah Sakit Amanda.
Sempat diperbolehkan pulang, kondisi sang anak justru kembali memburuk.
Ia kembali mengalami mual dan gatal-gatal sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Kali ini, perawatan dilanjutkan di RS Efarina Etaham.
Di hadapan Kepala BGN, sang ibu meminta jawaban yang menurutnya jauh lebih penting daripada sekadar permintaan maaf.
“Pak, permintaan maaf Bapak tidak mengubah keadaan. Apa sebenarnya racun yang dimakan anak saya? Agar kami tahu bagaimana mengobatinya,” ujarnya sambil menangis.
Pertanyaan itu menjadi gambaran keresahan orang tua korban.
Mereka bukan hanya ingin mengetahui siapa yang bertanggung jawab. Mereka juga membutuhkan kepastian mengenai apa yang sebenarnya menyebabkan anak-anak mereka jatuh sakit.
Sebab, bagi orang tua, mengetahui penyebab penyakit bukan perkara sederhana. Jawaban tersebut berkaitan dengan pengobatan, pemulihan, keamanan makanan berikutnya, sekaligus rasa percaya terhadap program yang setiap hari dikonsumsi anak mereka.
Dari Program Gizi Menjadi Sorotan Nasional
Program MBG sejak awal dirancang sebagai salah satu program prioritas pemerintah untuk meningkatkan asupan gizi masyarakat, terutama anak-anak sekolah.
Karena itu, ketika dugaan keracunan berulang terjadi, persoalannya tidak lagi sebatas makanan yang bermasalah dalam satu kejadian.
Ada persoalan yang lebih besar: seberapa kuat sistem pengawasan dari dapur hingga makanan sampai ke tangan anak?
Data yang dihimpun Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) per 13 Agustus 2026 menunjukkan besarnya skala persoalan.
Sepanjang Januari hingga awal Agustus 2026, tercatat 12.656 korban dugaan keracunan MBG. Jika akumulasi sejak 2025 diperhitungkan, jumlah korban yang tercatat mencapai 40.759 orang.
Angka tersebut membuat rentetan kasus pada Agustus menjadi perhatian serius.
Pada awal Agustus saja, dilaporkan terjadi lonjakan sekitar 1.442 kasus baru dalam satu pekan. Salah satu angka terbesar disebut berasal dari Kabupaten Jayapura, Papua, dengan sekitar 527 orang terdampak dalam rangkaian evaluasi awal bulan.
Kasus kemudian kembali muncul di sejumlah daerah.
Di Berastagi, Kabupaten Karo, pada 13 Agustus, ratusan siswa dari SMAN 1 Berastagi, SMA Swasta Bersama, dan SMK Swasta Bersama dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG.
Data mengenai jumlah korban dalam laporan yang beredar memang bervariasi, mulai dari sekitar 255 hingga 289 siswa. Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa pendataan korban masih menjadi bagian penting yang harus diperjelas dalam penanganan kasus.
Di daerah lain, dugaan kasus serupa juga dilaporkan.
Sebanyak 134 santri dan pengajar di Pondok Pesantren Baiti Jannati, Kota Sukabumi, disebut mengalami gejala mual dan muntah setelah menyantap makanan MBG.
Sementara di Dumai, Riau, sedikitnya 38 siswa juga dilaporkan mengalami gejala serupa.
Rangkaian kejadian tersebut membuat persoalan keamanan pangan MBG semakin mendapat sorotan.
BGN Mulai Menonaktifkan Kepala Dapur
Di tengah rentetan kasus itu, BGN disebut telah mengambil langkah penindakan dengan menonaktifkan sedikitnya 137 kepala dapur MBG yang dinilai melakukan penyimpangan tata kelola atau kelalaian dalam aspek higienitas.
Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa persoalan keamanan makanan tidak bisa dianggap sebagai insiden biasa.
Sebab, dalam program berskala nasional, satu kesalahan pada proses produksi dan distribusi dapat berdampak kepada ratusan bahkan ribuan penerima manfaat.
Makanan harus melewati rantai panjang sebelum sampai kepada anak sekolah.
Mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, proses memasak, kebersihan dapur, pengemasan, pengangkutan, hingga makanan dikonsumsi.
Satu titik yang gagal dikendalikan berpotensi menjadi pintu masuk masalah.
Dan ketika korbannya adalah anak-anak, konsekuensinya menjadi jauh lebih serius.