Operasi itu kemudian berkembang menjadi salah satu kampanye udara terbesar Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir.
 

Namun laporan terbaru CRS berpotensi memicu gelombang kritik baru di internal AS. Banyak pihak mulai mempertanyakan seberapa besar sebenarnya kemampuan Iran dalam menghadapi kekuatan militer Amerika, terutama setelah muncul klaim bahwa Teheran berhasil memberikan kerusakan yang jauh lebih serius dibanding pengakuan resmi Pentagon sebelumnya.
 

Hingga kini Departemen Pertahanan AS belum merilis laporan lengkap terkait total kerugian tempur selama operasi berlangsung. Data CRS sendiri disusun berdasarkan paparan Pentagon, pengarahan CENTCOM, dan berbagai laporan media internasional.
 

Di tengah memanasnya situasi, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, langsung merespons laporan tersebut melalui platform X. Ia menyebut data itu menjadi bukti bahwa Iran mampu menantang dominasi udara Amerika Serikat dalam perang modern.
 

Araghchi bahkan mengklaim Iran menjadi negara pertama yang berhasil menjatuhkan jet tempur F-35 milik AS. Ia juga memperingatkan bahwa jika Presiden AS Donald Trump kembali melancarkan serangan militer, Teheran akan memberikan “lebih banyak kejutan”.
 

Kehilangan F-35A dinilai menjadi pukulan simbolis sekaligus strategis bagi Washington. Sebab, jet siluman tersebut selama ini diposisikan sebagai salah satu tulang punggung kekuatan udara Amerika dan ikon supremasi teknologi militer AS di dunia.