Gelombang aksi jual investor asing tersebut kemudian meningkatkan kebutuhan konversi rupiah ke dolar AS, sehingga memperbesar permintaan terhadap mata uang Negeri Paman Sam dan menekan nilai tukar rupiah.
Rumor Penurunan Peringkat Kredit
Pasar juga dibayangi isu mengenai peringkat kredit Indonesia. Meski pemerintah telah menegaskan bahwa belum ada keputusan penurunan rating dari S&P Global Ratings, rumor yang beredar tetap memengaruhi psikologi investor.
Kekhawatiran semakin menguat karena sebelumnya dua lembaga pemeringkat internasional telah memberikan sinyal negatif terhadap Indonesia. Fitch telah merevisi outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, sementara Moody's juga mengambil langkah serupa.
Bagi investor, peringkat kredit menjadi indikator penting untuk menilai risiko investasi. Karena itu, setiap isu terkait kemungkinan penurunan rating berpotensi memicu kehati-hatian pasar dan menekan arus modal masuk.