Dari sisi global, dolar AS masih menjadi pilihan utama investor yang mencari aset aman di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk.

Memanasnya konflik di Timur Tengah, termasuk serangan Iran ke Kuwait dan respons militer Amerika Serikat di sekitar Selat Hormuz, mendorong investor mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman. Akibatnya, permintaan terhadap dolar AS meningkat dan memperkuat mata uang tersebut terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah.

 

Situasi ini juga memicu kenaikan harga minyak dunia. Bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi, lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi sekaligus memperlebar defisit transaksi berjalan.

 

Arus Keluar Dana Asing dari Pasar Saham

 

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari pasar keuangan domestik. Salah satu pemicunya adalah rebalancing indeks MSCI yang dilakukan pada Mei 2026.

 

Dalam penyesuaian tersebut, sebanyak 19 saham Indonesia dikeluarkan dari berbagai indeks MSCI. Kondisi ini memaksa sejumlah dana investasi global untuk menyesuaikan portofolionya dengan menjual saham-saham Indonesia.