Rinciannya, sebesar Rp448,8 juta dialokasikan untuk susu balita dan Rp121 juta untuk susu ibu hamil. Program tersebut menyasar 726 balita dengan masalah gizi serta 160 ibu hamil yang mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan anemia.
Menurut drg. Ellya Fardasyah saat dikonfirmasi pada Mei lalu, bantuan susu tersebut merupakan bentuk intervensi langsung untuk mencegah lahirnya generasi stunting baru di Sumenep.
"Kegiatan tersebut untuk penanganan balita dan ibu hamil bermasalah dengan asupan gizi," ujarnya, Sabtu (30/05/2026) kemaren.
Data Dinkes P2KB menunjukkan prevalensi stunting di Kabupaten Sumenep terus mengalami penurunan. Dari 21,6 persen pada 2022, turun menjadi 16,7 persen pada 2023 dan kini berada di angka 11,6 persen.
Meski capaian itu diapresiasi, publik kini menunggu penjelasan pemerintah terkait efektivitas dan urgensi anggaran Rp1,29 miliar untuk pulsa dan paket data yang digelontorkan di tengah berbagai kebutuhan penanganan stunting lainnya.