estoria.id - Sebuah klaim kontroversial kembali menghebohkan dunia sains dan keagamaan. Michael Guillén, mantan fisikawan Harvard yang juga dikenal sebagai penulis dan komentator sains, mengaku memiliki gambaran teoretis mengenai lokasi fisik Tuhan di alam semesta.

 

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan Fox News, Guillén mengaitkan konsep kosmologi modern dengan ajaran Alkitab. Ia berpendapat bahwa lokasi tersebut berada di balik apa yang dikenal sebagai cakrawala kosmik (cosmic horizon), yakni batas terjauh alam semesta yang masih dapat diamati manusia.

 

"Secara teoretis, sebuah galaksi yang berada 273 miliar triliun mil dari Bumi akan bergerak dengan kecepatan 186.000 mil per detik, yakni kecepatan cahaya. Jarak itu, jauh 'di atas' sana di ruang angkasa, disebut Cakrawala Kosmik," tulis Guillén, dikutip pada Jumat (07/08/2026)

 

Jika dikonversi, jarak yang dimaksud mencapai sekitar 439 miliar triliun kilometer dari Bumi.

 

Menurut Guillén, cakrawala kosmik merupakan wilayah yang tidak mungkin dijangkau pengamatan manusia karena ruang di antara galaksi terus mengembang lebih cepat dibanding kemampuan cahaya untuk mencapai Bumi. Ia kemudian menghubungkan konsep tersebut dengan gambaran surga dalam Alkitab yang disebut berada di luar jangkauan manusia selama masih hidup.