Selain memenuhi kebutuhan gizi, program tersebut juga diharapkan mampu membentuk kebiasaan konsumsi makanan sehat sejak usia dini sehingga berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Kusmayanti menilai dampak MBG tidak berhenti pada aspek kesehatan.
Menurutnya, anggaran yang digelontorkan melalui APBN juga ikut menciptakan perputaran ekonomi di daerah melalui operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ia menyebut kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar, seperti beras, telur, daging, sayuran hingga komoditas hasil perikanan, membuka peluang pasar bagi petani, peternak, nelayan, pelaku UMKM, hingga toko sembako yang menjadi pemasok kebutuhan dapur MBG.
"Anggaran negara yang masuk melalui MBG ikut menggerakkan ekonomi masyarakat. Banyak pihak yang terlibat dan memperoleh manfaat dari rantai pasok kebutuhan SPPG," katanya.
Menanggapi usulan agar anggaran MBG dibagikan langsung kepada masyarakat dalam bentuk uang tunai, Kusmayanti menegaskan hal tersebut tidak dapat dilakukan. Menurutnya, seluruh penggunaan APBN harus mengikuti mekanisme administrasi negara yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.