“Program-program yang menyentuh langsung jamaah nyaris tidak terlihat. Fokus organisasi bergeser ke urusan yang lebih berorientasi ke atas,” ujarnya.

 

Tak hanya itu, Ahmad Baso juga menilai fungsi pembinaan dan pengembangan organisasi mengalami kemunduran. Ia secara tegas menyebut kedua aspek tersebut gagal dijalankan secara optimal selama lima tahun terakhir.

 

Dalam kritiknya, ia turut menyoroti dinamika internal PBNU yang menurutnya lebih banyak dipengaruhi kelompok tertentu. Kondisi tersebut, kata dia, membuat organisasi cenderung lebih mempercayai pihak luar dibanding kader dan sumber daya internal yang selama ini menjadi kekuatan utama NU.

 

Bagi Ahmad Baso, situasi tersebut merupakan bentuk penyimpangan dari khittah atau garis perjuangan organisasi yang telah diwariskan para pendiri NU.

 

Ia mengingatkan kembali pesan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang menempatkan NU sebagai wadah perjuangan untuk memperbaiki persoalan keagamaan dan kemasyarakatan. Amanah itu, menurutnya, harus menjadi pijakan utama setiap pemimpin NU dalam menjalankan organisasi.