estoria.id - Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Botok, mengaku menghadapi kendala saat memimpin massa dari Pati yang berada di Jakarta. Rekening Bank Mandiri miliknya disebut tiba-tiba diblokir ketika ia tengah mengawal persiapan aksi di depan Gedung DPR RI.

 

Tak hanya rekening, sejumlah akun media sosial miliknya juga diklaim mengalami pemblokiran. Kondisi tersebut membuat dana operasional yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan massa aksi ikut tertahan.

 

Botok menyebut saldo dalam rekening tersebut mencapai sekitar Rp80,9 juta. Dana itu, menurutnya, berasal dari uang pribadi dan donasi masyarakat yang dikumpulkan untuk mendukung kebutuhan peserta aksi dari Pati selama berada di Jakarta.

 

"Saat ini, hari ini, saya di Jakarta dan teman-teman sangat merasa terzalimi. Tadi malam akun TikTok saya diblokir. Lebih parah lagi, rekening saya, uang pribadi saya dan uang donasi dari teman-teman Rp80 juta sekian juga diblokir," kata Botok di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Sabtu (22/8/2026).

 

Pemblokiran tersebut disebut berdampak langsung terhadap kebutuhan logistik dan akomodasi massa. Peserta aksi yang datang dari Pati pun harus mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama berada di Ibu Kota.

 

Di tengah kondisi tersebut, solidaritas warga menjadi penopang. Massa AMPB bersama sejumlah pendukung dari Bogor dan Tangerang disebut bertahan dengan mengandalkan bantuan berupa bahan pangan yang dikirimkan masyarakat setempat.

 

Botok menjelaskan, dana yang tersimpan di rekening tersebut memang diperuntukkan bagi kebutuhan operasional peserta aksi.

 

"Ya nanti kita sak mlaku-mlakune lah," ujarnya ketika ditanya mengenai cara memenuhi kebutuhan logistik massa setelah rekening diblokir.

 

Menurut Botok, pemblokiran rekening dan akun media sosial tersebut terasa seperti tekanan terhadap kelompoknya. Ia bahkan berharap Presiden Prabowo Subianto dapat memperhatikan kondisi yang mereka alami.

 

Meski menghadapi kendala, Botok menegaskan AMPB tidak datang ke Jakarta untuk membuat kerusuhan. Ia menyebut kedatangan massa dari Pati bertujuan menyampaikan aspirasi secara tertib dan damai.

 

"Teman-teman dari Pati datang ke Jakarta itu tidak ada niat untuk membuat kerusuhan. Kami di sini murni mengawal aspirasi rakyat Indonesia dengan tertib, aman, dan damai," tegasnya.

 

Ia juga menyinggung sejumlah tuntutan yang dibawa AMPB, termasuk dorongan terhadap RUU Perampasan Aset serta hukuman mati bagi koruptor.

 

Botok mengaku heran karena selama melakukan aksi demonstrasi di Pati, dirinya tidak pernah mengalami pemblokiran rekening maupun akun media sosial seperti yang terjadi di Jakarta.

 

"Kita bukan teroris, kita bukan pelaku kriminal, koruptor. Teman-teman di sini datang ke Jakarta untuk mengawal aspirasi masyarakat Indonesia. Tidak ada niatan untuk membuat kerusuhan," katanya.

 

Meski kecewa, Botok memastikan AMPB tidak akan melakukan aksi dengan cara bermalam atau camping di sekitar Gedung DPR RI. Massa, kata dia, akan mengikuti ketentuan mengenai batas waktu penyampaian pendapat di muka umum.

 

"Rencana untuk camping kita nggak ada. Kita aksi mulai jam 8 pagi sampai jam 5 sore atau jam 6 sore paling lambat, sesuai dengan undang-undang penyampaian pendapat," ujarnya.

 

Sebelumnya, AMPB telah membuka posko di depan Gedung DPR RI sebagai bagian dari persiapan menghadapi aksi yang direncanakan berlangsung pada 27 Agustus 2026.

 

Rombongan massa dari Pati diketahui tiba di kawasan Gedung DPR RI pada Jumat (21/8/2026). Mereka kemudian mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk mengikuti aksi yang telah diagendakan tersebut.

 

Di tengah persiapan itu, persoalan pemblokiran rekening kini menjadi kendala baru karena dana yang disebut berasal dari donasi publik dan uang pribadi belum dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan massa.