estoria.id - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut ada pakar yang “saking pintarnya jadi goblok” mendapat respons dari pakar hukum tata negara Mahfud MD.
Mahfud tidak sepenuhnya membantah pernyataan tersebut. Menurut dia, memang ada pakar maupun profesor yang kapasitasnya berada di bawah standar.
Namun, Mahfud mengingatkan bahwa kondisi itu tidak bisa digeneralisasi kepada seluruh profesor dan pakar.
“Ya memang saya percaya juga, banyak pakar. Banyak profesor yang tidak perform. Lemah sebagai pakar,” kata Mahfud dalam tayangan di kanal YouTube Mahfud MD Official, dikutip Selasa (22/9/2026).
Mahfud kemudian menyinggung jumlah profesor di Indonesia yang mencapai lebih dari 1.500 orang. Menurut dia, dengan jumlah sebanyak itu, sangat mungkin terdapat profesor yang memiliki kemampuan di bawah standar.
“Kan ada 1.500 lebih profesor. Coba siapa pakarnya? Jadi bahwa ada profesor di bawah standar yang oleh Pak Prabowo itu disebut goblok, itu ya pasti ada,” ujarnya.
Meski demikian, Mahfud menegaskan tidak semua profesor dapat diberi label serupa. Ia kemudian membuat perbandingan dengan jabatan presiden.
“Tetapi tentu tidak semua profesor. Seperti halnya presiden juga banyak yang goblok. Iya kan? Banyak yang goblok juga,” kata Mahfud.
Pernyataan itu disampaikan Mahfud dalam konteks menanggapi polemik mengenai penggunaan istilah “goblok” terhadap para pakar. Ia tidak menyebut Presiden Prabowo sebagai sosok yang dimaksud dengan istilah tersebut.
Mahfud justru menyebut mantan Presiden Uganda, Idi Amin, sebagai contoh ketika menjelaskan bahwa seseorang yang menduduki jabatan presiden tidak otomatis terbebas dari kemungkinan memiliki kapasitas yang buruk.
“Banyak profesor goblok. Banyak juga presidennya goblok gitu. Tahu contohnya? Idi Amin misalnya, kan presiden juga itu,” ucapnya.
Mahfud Singgung Gelar Profesor
Dalam kesempatan tersebut, Mahfud juga menyoroti persoalan kualitas gelar akademik. Ia mengklaim pada era sekarang gelar profesor dapat diperoleh melalui berbagai cara yang menurutnya tidak semestinya.
“Apalagi zaman sekarang ya, kayak profesor bisa beli. Bisa pesan. Bisa nego. Bisa kasih bantuan dapat,” ujarnya.
Mahfud pada akhirnya menekankan bahwa status akademik maupun jabatan politik tidak otomatis menjadikan seseorang selalu benar.
Karena itu, menurut dia, kritik terhadap pakar maupun presiden seharusnya tidak dilakukan dengan cara melakukan generalisasi.
Berawal dari Pernyataan Prabowo
Polemik tersebut bermula dari pernyataan Prabowo saat menghadiri perayaan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo berbicara mengenai keinginannya melihat Indonesia menjadi negara yang sejahtera. Ia menyebut keinginan tersebut sebagai sumpah pribadinya.
“Saya bersumpah ingin melihat Indonesia sejahtera, itu sumpah saya,” kata Prabowo.
Prabowo kemudian menyinggung pihak-pihak yang mengkritik kebijakan pemerintah, termasuk sejumlah pakar yang menurutnya terlalu percaya diri dengan kepakarannya.
“Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, saking pintarnya jadi goblok,” ujar Prabowo.
Pernyataan tersebut kemudian menjadi sorotan karena istilah “goblok” yang digunakan kepala negara untuk menyindir sebagian pakar.
Mahfud pun memberikan respons dengan mengakui bahwa tidak semua orang yang menyandang status profesor atau pakar memiliki kemampuan yang sama.
Namun, ia sekaligus mengingatkan bahwa persoalan serupa juga dapat terjadi pada pemegang jabatan lain, termasuk presiden.
Meski melontarkan perbandingan tersebut, Mahfud memberikan penilaian berbeda ketika ditanya mengenai Prabowo.
“Tapi soal Prabowo kalau mau membanding-bandingkan, menurut saya Prabowo itu memang pandai, tidak goblok,” kata Mahfud.