ESTORIA - Di era artificial intelligence, manusia semakin mudah berbicara dengan mesin. Ia bisa mengeluh, menangis lewat teks, meminta nasihat, bahkan mencari rasa tenang dari chatbot yang menjawab tanpa marah dan tanpa menghakimi. Fenomena ini tampak sederhana. Namun, di baliknya ada masalah besar: manusia modern semakin sulit menemukan manusia lain yang benar-benar mau mendengar.

 

Teman curhat berbasis AI lahir dari ruang kosong dalam kehidupan sosial. Banyak orang merasa sendirian, takut dihakimi, atau tidak punya tempat aman untuk bercerita. AI lalu hadir sebagai pendengar instan. Ia selalu tersedia. Ia menjawab cepat. Ia memberi kalimat yang tampak lembut. Akan tetapi, kemampuan memberi respons lembut tidak sama dengan empati sejati.

 

Empati bukan hanya soal memilih kata yang menenangkan. Empati adalah kemampuan untuk hadir, memahami, dan ikut memikul tanggung jawab moral terhadap penderitaan orang lain. AI bisa meniru bahasa empati, tetapi tidak memiliki hati, pengalaman batin, iman, rasa bersalah, atau tanggung jawab manusiawi. Karena itu, AI dapat membantu manusia menata pikiran, tetapi tidak pantas menggantikan hubungan antarmanusia.

 

Masalah ini menjadi serius karena kesepian bukan sekadar perasaan sementara. WHO menjelaskan bahwa kesepian dan isolasi sosial berkaitan dengan peningkatan risiko stroke, penyakit jantung, diabetes, penurunan kognitif, kematian dini, depresi, kecemasan, dan pikiran untuk menyakiti diri sendiri. WHO juga mencatat bahwa orang yang kesepian memiliki risiko depresi yang lebih tinggi. 

 

 

Dari sisi sains, AI companion memang dapat memberi rasa lega sesaat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendamping AI dapat menurunkan rasa kesepian dalam momen tertentu. Namun, manfaat sesaat tidak otomatis berarti sehat dalam jangka panjang. Studi lain menemukan bahwa penggunaan chatbot yang tinggi berkaitan dengan meningkatnya kesepian, ketergantungan emosional, masalah penggunaan AI, dan menurunnya sosialisasi dengan manusia nyata.