Di media sosial kemudian ramai gerakan “17+8 Tuntutan Rakyat”, rangkaian tuntutan konkret kepada penguasa. Ferry Irwandi ikut mengampanyekan gerakan ini.
Menurut unggahannya, “17+8 Tuntutan Rakyat adalah rangkuman dari berbagai macam tuntutan dan desakan rakyat, mulai dari tuntutan demo buruh 28 Agustus 2025 hingga desakan 211 organisasi masyarakat sipil”.
Ia mendorong agar pemerintah memenuhi tuntutan tersebut. Misalnya, di antara tujuh belas tuntutan utama itu tercantum seruan “tarik TNI dari pengamanan sipil dan pastikan tidak ada kriminalisasi demonstran” dan “bekukan kenaikan tunjangan anggota DPR”.
Selain itu, rakyat menuntut TNI segera kembali ke barak serta upah layak bagi seluruh pekerja (termasuk ojek online). Ferry kerap menjelaskan tuntutan-tuntutan ini secara edukatif di kanalnya dan dalam diskusi publik.
Ferry juga menggarisbawahi dampak kerusuhan yang, hingga awal September, diperkirakan sudah ada sembilan orang meninggal dunia dalam bentrokan tersebut.
“Itu bukan sekadar angka, itu nyawa manusia. Ada luka yang tidak akan pernah hilang bagi keluarga mereka,” kata Ferry dalam suatu sesi wawancara.
Posisinya dalam gerakan massa semakin mencuat karena ia berani mengungkap fakta lewat data dan analisis digital. Sebuah pendekatan yang jarang dilakukan tokoh lain.
Ancaman dan Tekanan Buzzer Digital
Menjadi sosok vokal sering kali membuat Ferry Irwandi menjadi target. Setelah ia mengklaim berhasil membongkar “jaringan provokator” dan menggagalkan isu darurat militer dalam kerusuhan akhir Agustus 2025, akun-akun anonim pendukung kekuasaan melakukan teror digital kepadanya.
Pada pagi hari berikutnya, nomor ponsel pribadi dan nomor keluarga dekat Ferry disebarkan massif di media sosial.