“Bila kaum muda terpelajar merasa dirinya terlalu tinggi untuk berbaur dengan masyarakat, maka lebih baik pendidikan itu tidak pernah ada.”

Menurut Ferry, Tan Malaka adalah figur intelektual organik yang bersatu dengan rakyat, seorang yang tidak hanya berpidato tapi juga hidup dalam perjuangan yang diyakininya.

Konsep inilah yang diinternalisasi Ferry dalam gerakannya. Istilah-istilah seperti “Pasukan Revolusi” dan “Beasiswa Revolusi” bahkan digunakan dalam kampanye Malaka Project untuk membangkitkan semangat perubahan di kalangan pemuda.

Dalam tiap pemaparannya, ia menyiratkan bahwa gerakan ini adalah revolusi ideologi yang damai: menyusup dalam jalur pendidikan dan kritik sosial tanpa perlu kekerasan, meneladani semangat Tan Malaka dan nilai-nilai stoik yang ia anut.

Profil Singkat Ferry Irwandi

Singkatnya, Ferry Irwandi tampil sebagai ikon muda yang berani dan tak kompromi. Dari seorang pegawai negeri yang nyaman, ia bertransformasi menjadi figur publik Gen Z yang vokal menyuarakan ketidakadilan.

Keberaniannya beradu argumentasi di televisi nasional dan bersikap terbuka soal risiko (penjara atau kematian) menunjukkan konsistensi filosofi yang ia anut.

Ia bahkan menegaskan bersedia menghadapi proses hukum dengan kepala tegak: “Saya menegaskan siap menghadapi proses hukum… ide tidak bisa dibungkam oleh penjara,” ujarnya.

Secara keseluruhan, Ferry dipandang sebagai sosok yang gigih memperjuangkan kebebasan sipil dan pendidikan kritis.

Dengan latar belakang akademis dan keluarga pendidik, komitmennya menginspirasi pemuda lainnya.