Sementara itu, panitia Press Foundation of Asia menjelaskan bahwa Lurie hadir sebagai perwakilan organisasi pers, bukan mewakili negara Israel. Menurut panitia, menolak peserta yang telah diundang dianggap tidak etis sebagai tuan rumah penyelenggara.

 

"Sebagai tuan rumah penyelenggara tentu tidak sopan sekali untuk menolak kedatangan salah seorang peserta undangan," demikian penjelasan panitia yang dikutip Harian Kami.

 

Peristiwa tersebut juga mengundang kritik dari negara-negara Timur Tengah. Duta Besar Mesir untuk Indonesia saat itu, Ali Shawki El-Hadidi, menyebut masuknya wartawan Israel bertentangan dengan sikap politik Indonesia yang selama ini mendukung perjuangan Palestina.

 

Presiden Soeharto kemudian memerintahkan pengusutan secara menyeluruh. Hasil investigasi akhirnya mengungkap bahwa Ted Lurie memperoleh izin khusus dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura untuk menghadiri konferensi pers di Bali.

 

Arsip Harian Merdeka edisi 4 September 1971 menyebutkan bahwa surat izin khusus dari KBRI Singapura itulah yang menjadi dasar Lurie dapat memasuki Indonesia. Meski demikian, polemik yang terlanjur muncul menjadikan peristiwa tersebut sebagai salah satu kisah paling kontroversial dalam sejarah hubungan Indonesia dengan Israel.