estoria.id – Kisah ribuan anak Indonesia yang diadopsi ke Belanda pada era 1970 hingga 1980-an kembali menjadi sorotan. Di balik harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik, terungkap dugaan praktik adopsi bermasalah yang menyisakan luka mendalam bagi para korban dan keluarga biologis mereka.
Berdasarkan dokumen pemerintah Belanda, sekitar 4.000 anak asal Indonesia dibawa ke negeri tersebut melalui program adopsi internasional selama kurun waktu tersebut. Kini, setelah puluhan tahun berlalu, banyak dari mereka yang telah dewasa berusaha mengungkap identitas asli sekaligus mencari orang tua kandung yang terpisah sejak masih bayi.
Sejumlah hasil investigasi mengungkap bahwa tingginya minat keluarga di Belanda untuk mengadopsi anak diduga memicu munculnya jaringan perantara yang aktif mencari anak-anak dari Indonesia. Dalam banyak kasus, keluarga yang hidup dalam keterbatasan ekonomi disebut diyakinkan bahwa menyerahkan anak mereka untuk diadopsi merupakan jalan terbaik demi masa depan sang anak.
Beberapa yayasan swasta diduga menjadi penghubung dalam proses tersebut. Mereka disebut menawarkan bantuan biaya persalinan hingga berbagai janji kesejahteraan. Namun, di balik praktik itu, muncul dugaan bahwa tidak seluruh proses berlangsung sesuai aturan dan dilakukan secara transparan.
Laporan investigasi bahkan mengungkap adanya dugaan pelanggaran serius, mulai dari anak yang dibawa tanpa persetujuan orang tua, dugaan penculikan, hingga kasus anak yang dibawa pengasuh tanpa sepengetahuan keluarga.