ESTORIA – Nilai tukar rupiah kembali terpukul keras. Pada penutupan perdagangan Selasa (12/05/2026), mata uang Garuda ambruk hingga menyentuh Rp17.529 per dolar AS—melemah 115 poin dibanding hari sebelumnya dan melampaui posisi terlemah saat pandemi Covid-19. Angka ini mendekati level psikologis yang selama ini dianggap rawan bagi stabilitas pasar keuangan domestik.
Tekanan terhadap rupiah memantik pertanyaan besar: seberapa gawat kondisi ekonomi Indonesia saat ini?
Meski angkanya mengkhawatirkan, sejumlah ekonom menilai situasi sekarang belum bisa disamakan dengan krisis moneter 1998. Fondasi ekonomi Indonesia dinilai jauh lebih kokoh dibanding masa krisis tersebut.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menegaskan pelemahan rupiah memang perlu diwaspadai karena memberi tekanan besar pada perekonomian. Namun, ia menilai kondisi fundamental Indonesia masih relatif kuat, ditopang cadangan devisa yang solid, inflasi terkendali, perbankan stabil, serta pertumbuhan ekonomi yang tetap positif.
Meski demikian, ancaman belum sepenuhnya reda. Lukman mengingatkan peluang rupiah menembus Rp18 ribu per dolar AS tetap terbuka jika tekanan global terus memburuk. Faktor yang membayangi antara lain arah suku bunga Amerika Serikat, lonjakan harga minyak dunia, serta arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang.
Tekanan kurs juga bukan hanya dialami Indonesia. Dalam sepekan terakhir, sejumlah mata uang Asia—seperti won Korea Selatan, peso Filipina, hingga rupee India—ikut melemah tajam.
Dampak pelemahan rupiah diperkirakan merembet luas ke ekonomi domestik. Biaya impor energi, bahan baku industri, hingga pangan menjadi lebih mahal. Efek berantai dari kenaikan biaya ini berpotensi memicu inflasi dan menggerus daya beli masyarakat. Beban utang luar negeri pemerintah maupun swasta juga otomatis meningkat dalam nilai rupiah.
Namun, tidak semua sektor terpuruk. Pelemahan kurs justru menjadi berkah bagi eksportir berbasis dolar, seperti industri batu bara, kelapa sawit (CPO), dan komoditas ekspor lainnya.
Sebaliknya, sektor yang paling terpukul adalah industri yang bergantung pada impor atau memiliki utang dolar besar. Industri penerbangan menghadapi lonjakan biaya avtur dan leasing pesawat. Sektor otomotif, elektronik, farmasi, hingga manufaktur juga ikut tertekan akibat mahalnya bahan baku impor.
Menurut Lukman, kunci utama saat ini adalah menjaga kepercayaan pasar agar pelemahan rupiah tidak berubah menjadi kepanikan. Ia menilai Bank Indonesia perlu aktif melakukan stabilisasi melalui intervensi pasar valas dan obligasi, serta menjaga suku bunga tetap kompetitif agar rupiah tetap menarik bagi investor.
Pemerintah juga dituntut disiplin fiskal dan konsisten mengkomunikasikan arah kebijakan ekonomi guna menjaga kepercayaan terhadap APBN. Dalam jangka menengah, Indonesia dinilai perlu mengurangi ketergantungan impor energi dan memperkuat sumber devisa dari ekspor serta investasi asing langsung agar rupiah lebih tahan terhadap gejolak global.
*Artikel ini dikutip dari CNN Indonesia.














