Dengan pendekatan journalism feature, Mahéng menulis tentang kehidupan masyarakat Masalembu yang dihuni berbagai kelompok, termasuk Madura, Bugis, dan Mandar. Baginya, laut bukanlah pemisah, melainkan jembatan yang mempertemukan kebudayaan dan membangun peradaban.

 

Sementara itu, Iskandar Dzulkarnain menilai buku tersebut penting untuk menantang stereotip lama terhadap masyarakat Madura yang kerap dibentuk melalui perspektif kolonial. Menurutnya, kebudayaan Madura sejak lama terbuka dan mengalami persilangan dengan berbagai kebudayaan lain.

 

Ia juga menyoroti persoalan pembangunan kepulauan yang masih berorientasi daratan. Berbagai masalah seperti akses kesehatan, listrik, lingkungan, hingga kebijakan pengelolaan sumber daya laut dinilai membutuhkan perhatian serius.

 

Melalui buku ini, Maheng berharap masyarakat tidak hanya mengenal Masalembu melalui cerita atau stigma. 

 

“Datang dan lihat sendiri. Jangan hanya berdasarkan katanya,” pesannya.