Setiap pagi buta pak Rt itu bangun pagi dini hari. Tepat jam 03.00 ia melaksanakan shalat tahajud di rumahnya sebagai ritual yang diitiqamahkan dari pesantren dulu. Sebagai ketua Rt di kampungnya, ia juga aktif shalat jama’ah di mushalla dekar rumahnya. Entah dia sebagai jama’ah dan juga sebagai imam shalat di mushalla itu. Di kampungnya, setiap Rt itu pasti berdampingan dengan mushalla, bukan masjid.
Pagi masih gelap gulita. Kokok ayam jantan terdengar di tiap-tiap rumah, seperti melantunkan gema takbir ke seluruh alam.
Seperti biasanya, setiap pagi setelah shalat subuh berjamaah pak RT membawa sayuran-sayurannya ke pasar Bringharjo. ia menunggu pelanggan tetapnya di depan kios yang berderet dengan pasar yang belum dibuka oleh pemiliknya karena terlalu pagi. Tapi nahas, selama ada wabah menimpa, sayuran-sayuran yang selalu habis terjual, sekarang masih banyak sisanya.
Sudah enam bulan lamanya wabah itu menimpa ke pelosok-pelosok desa, bahkan dunia.
Selang beberapa hari setelah merayakan 17 Agustusan, pak RT dikabarkan masuk Ruang ICU. Asma yang dideritanya kambuh lagi. Keluarga dan kerabat-kerabatnya yang mengunjunginya harus mematuhi protokol Covid-19.