SPPG MBG Jadi ASN, Bikin Gemes
ESTORIA – Membaca kolom Syamsuni: “Pengabdian Tak Dianggap.” Rubrik Pamanggi, Koran Madura, Kamis (28/1), rasanya kok jadi gemes. Gemes dalam tanda kutip. Gemes campur geli. Sedikit Gemoy.
Syamsuni menulis: “Sebuah langkah yang sah dan legal secara administrasi.” Tidak ada yang salah. Pengangkatan 32 ribu pegawai inti dapur MBG jadi ASN PPPK itu sah. Negara hadir. Badan Gizi Nasional bergerak. KemenPAN-RB sigap.
Birokrasi kita ternyata bisa lari cepat. Ini kabar baik. Berarti selama ini bukan tidak bisa. Hanya jarang mau.
Tapi gemesnya muncul di kalimat berikutnya. Syamsuni menulis: “Ada yang dua puluh tahun mengajar tanpa kepastian status.”
Dua puluh tahun. Tentu itu bukan masa kerja. Itu umur pengabdian. Atau barangkali lebih pas kita sebut, POTONGAN HIDUP.
Coba bayangkan, ada guru yang mulai mengajar saat ponsel masih antena. Sampai sekarang statusnya masih menunggu. Murid-muridnya sudah jadi orang tua. Bahkan mungkin, ada yang sudah jadi SPPG dapur MBG. Sementara dia gurunya, masih honorer. Unik bukan.
Negara sangat tanggap urusan gizi. Itu memang penting. Anak lapar susah belajar. Tapi anak kenyang tanpa guru, tentu juga tidak akan ke mana-mana.
Yang satu memberi makan perut. Yang lain memberi makan arah hidup. Harusnya dua-duanya diprioritaskan. Bukan saling menyalip.
“Hidup mereka paling naif. Karena pengabdiannya sering kali dianggap biasa.” Lanjut kata Syam. Hahahay, Bro… di republik ini, yang terlalu lama setia memang sering berubah jadi pemandangan. Selalu ada. Maka dianggap tidak perlu diurus dulu.
Guru honorer itu kayak dinding kelas. Menopang setiap hari. Tapi baru dicari ketika retak. Sementara negara, sedang gemoy dengan program unggulan. MBG jadi ikon. Gizi jadi headline. ASN baru diangkat cepat. Rapi. Fotogenik.
Mirip poster kampanye: ringan, ceria, menjanjikan.
“Seakan pengabdian panjang mereka tak cukup bernilai jika tak tercetak rapi dalam sistem negara.”
Nah, ini bukan soal iri. Kita ingin menegaskan, bahwa kita tidak bermaksud menolak PPPK bagi pegawai makan bergizi.
Ini soal urutan ingatan.
KemenPAN-RB punya data. Badan Gizi Nasional punya target. Tapi pendidikan seharusnya punya memori. Karena sekolah tidak hidup dari program viral. Sekolah hidup dari guru yang tetap datang meski tidak dijanjikan apa-apa.
“Mereka yang paling lama mengabdi, sering kali paling akhir diakui.”
Saya berhenti membaca di situ. Dan saya masih gemes. Bukan karena negara mengangkat pegawai dapur. Itu bagus. Tapi karena negara ternyata bisa cepat, dan memilih cepat di tempat yang lain.
Mungkin negeri ini tidak kekurangan anggaran. Ia hanya kadang salah urutan prioritas.
Betul kata Bro Syam. Jika pengabdian masih dihitung, guru honorer mestinya berdiri di barisan depan. Mereka tidak ribut. Tidak demo besar. Tidak trending.
Mereka hanya terus datang ke kelas. Diam-diam. Dan justru karena diam itulah, mereka sering terlupakan. Toh ya.. Wallahu A’lam.
Penulis: Mazdon



