ESTORIA -Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu (6/5/2026). Mata uang Garuda diproyeksikan berada di kisaran Rp17.420 hingga Rp17.460 per dolar AS di tengah meningkatnya tekanan global.
Berdasarkan data RTI Infokom, rupiah pada perdagangan Selasa (5/5/2026) ditutup terkoreksi 0,14 persen ke level Rp17.409 per dolar AS. Sepanjang sesi perdagangan, rupiah sempat bergerak di rentang Rp17.385 hingga Rp17.437 per dolar AS.
Pelemahan tidak hanya terjadi pada rupiah. Sejumlah mata uang Asia lainnya juga berada di zona merah, seperti yuan China yang turun 0,05 persen, dolar Hong Kong melemah 0,04 persen, yen Jepang turun 0,04 persen, won Korea Selatan melemah 0,10 persen, dolar Singapura terkoreksi 0,07 persen, hingga baht Thailand yang turun paling dalam sebesar 0,34 persen.
Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan dolar AS masih dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi pasar kembali memanas setelah kedua negara disebut melancarkan serangan baru untuk mempertegas pengaruh di kawasan Selat Hormuz.
Menurut Ibrahim, situasi tersebut membuat pelaku pasar cenderung mencari aset aman, sehingga dolar AS kembali menguat. Ketegangan geopolitik juga dinilai memberi tekanan tambahan bagi bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Jika tekanan inflasi terus meningkat, The Fed bahkan diperkirakan bisa mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut. Kondisi itu turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan membuat aset tanpa imbal hasil seperti logam mulia tertekan.
Sementara dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan atau year on year (YoY) pada kuartal I 2026. Pertumbuhan tersebut ditopang kuat oleh konsumsi masyarakat.
Ibrahim menilai konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Peningkatan mobilitas masyarakat selama periode libur nasional dan hari besar keagamaan turut mendorong aktivitas belanja dan konsumsi domestik pada awal tahun ini.














