"Kita hanya dapat melihat cahaya yang telah mencapai posisi kita. Artinya, ada batas sejauh mana bagian alam semesta yang dapat kita lihat, yang dikenal sebagai alam semesta teramati (observable universe), karena cahayanya belum sepenuhnya sampai kepada kita," jelasnya.
Berdasarkan pemikiran itu, Guillén menilai wilayah di balik cakrawala kosmik dapat menjadi representasi tempat yang dihuni entitas abadi dan nonmaterial sebagaimana digambarkan dalam ajaran agama.
Namun, pandangan tersebut langsung menuai kritik dari kalangan ilmuwan. Para kosmolog menegaskan bahwa cakrawala kosmik bukanlah sebuah lokasi fisik tetap, melainkan batas pengamatan yang bergantung pada posisi pengamat di alam semesta.
Dalam teori kosmologi modern, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa waktu berhenti di wilayah tersebut atau bahwa keberadaan Tuhan dapat ditentukan berdasarkan koordinat astronomi tertentu.
Para ahli juga menjelaskan bahwa cahaya dari objek yang berada sangat jauh akan mengalami redshift atau pergeseran ke arah merah akibat ekspansi alam semesta. Fenomena itu membuat objek tampak bergerak semakin lambat dari perspektif pengamat di Bumi, tetapi tidak berarti waktu benar-benar berhenti di sana.