Bukan hanya persoalan armada, Hafidz juga mengklaim intimidasi terjadi dalam berbagai bentuk terhadap mahasiswa yang terlibat dalam aksi.
Ia menyebut sejumlah pengurus maupun anggota BEM dari berbagai perguruan tinggi mendapat ancaman pencabutan beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K).
Selain itu, muncul pula dugaan ancaman pencopotan jabatan dalam organisasi hingga pembentukan narasi yang mengaitkan rencana aksi dengan potensi tindakan anarkis.
Bagi BEM UI, situasi tersebut justru dinilai bertolak belakang dengan semangat kemerdekaan dan demokrasi yang diperjuangkan setelah Reformasi.
Hafidz menilai kebebasan menyampaikan pendapat semestinya menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi, bukan justru dibatasi melalui tekanan maupun intimidasi.