Ia khawatir sentimen identitas yang masuk ke dalam konflik Papua dapat memperlebar jarak antarkelompok masyarakat dan memicu perpecahan yang lebih dalam.
"Yang mengagetkan saya, perlawanan di Papua geser ke perlawanan atas dasar rasisme, etnik, dan ras, maka ini tidak bisa dianggap remeh," katanya.
Pigai juga menyinggung adanya serangan terhadap warga pendatang di Papua. Ia mengingatkan agar kejadian yang melibatkan kelompok masyarakat berbeda tidak dianggap sebagai bagian yang biasa dari konflik.
"Jangan anggap perbedaan konflik yang sekarang terjadi di Papua, yang orang TPN-OPM menyerang suku pendatang, itu dianggap biasa. Kita khawatir itu menjadi pola baku di Papua dan mengental," ujar Pigai.
Memetakan Perubahan Konflik Papua