Pigai kemudian menjelaskan bahwa pola perlawanan di Papua mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
Ia menyebut, pada era 1960-an, perlawanan lebih banyak berlangsung secara sporadis melalui aksi bersenjata. Gerakan tersebut, kata dia, hanya terjadi di sejumlah titik.
"Jadi, tahun 1960-an itu gerakan perlawanan di Papua itu hanya satu pola, yaitu angkat senjata tapi sporadis, cuma satu dua titik saja," ucapnya.
Menurut Pigai, pola tersebut bertahan hingga memasuki era Reformasi pada 1998-1999. Setelah itu, bentuk gerakan berkembang dan tidak lagi hanya mengandalkan perlawanan bersenjata.
"Dari tahun 60-an ini berlangsung sampai tahun 1998 dan 1999 waktu reformasi. Jadi yang tadinya pola gerakan perlawanan yang bersifat sporadis dan revolusioner, yaitu hanya sebatas angkat senjata perlawanan senjata tapi tidak besar tersebut mengalami perubahan," kata dia.
Pigai menyebut munculnya kalangan intelektual yang membawa isu Papua melalui jalur diplomasi menjadi salah satu perkembangan berikutnya.