Rahman menjelaskan, rendahnya minat masyarakat dipengaruhi oleh keraguan sebagian orang tua terhadap kesiapan Sekolah Rakyat. Salah satu penyebabnya adalah fasilitas pendidikan yang hingga kini masih bersifat sementara.
Pada tahun ajaran pertama, kegiatan belajar mengajar direncanakan menumpang di gedung Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Batuan sambil menunggu pembangunan sarana permanen.
"Fasilitas yang masih bersifat sementara menjadi salah satu pertimbangan orang tua. Mereka ingin melihat terlebih dahulu kesiapan sarana dan prasarana sekolah," ujarnya.
Selain persoalan fasilitas, minimnya sosialisasi juga dinilai menjadi faktor rendahnya angka pendaftaran. Menurut Rahman, masih banyak masyarakat yang belum memahami konsep Sekolah Rakyat, mulai dari sistem pendidikan, pola pembelajaran, hingga mekanisme penyelenggaraannya.
Karena itu, Dinsos P3A berkomitmen memperluas publikasi agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh mengenai program tersebut.