ESTORIA - Pemerintah India menghadapi gelombang protes setelah mewajibkan penggunaan bahan bakar bensin campuran etanol 20 persen (E20). Kebijakan yang digadang-gadang mampu menekan emisi karbon dan mengurangi ketergantungan impor minyak itu justru memicu keluhan luas dari masyarakat yang mengaku mengalami penurunan performa kendaraan hingga kerusakan mesin.
Ketegangan meningkat setelah Jaksa Agung India R. Venkataramani dalam persidangan pekan ini menyebut penerapan E20 sebagai sebuah "eksperimen" yang hasil akhirnya baru akan diketahui pada tahun depan. Pernyataan tersebut langsung memicu kontroversi, meski pemerintah segera memberikan klarifikasi dan membantah bahwa kebijakan itu masih bersifat uji coba.
Dilansir Reuters pada Minggu (05/07/2026), klarifikasi pemerintah tidak mampu meredam kemarahan publik. Banyak warga menilai pemerintah terlalu cepat menerapkan kebijakan tanpa memastikan dampaknya terhadap jutaan kendaraan yang beredar di negara tersebut.
Tokoh masyarakat New Delhi sekaligus pendukung Partai Kongres, Tehseen Poonawalla, mengumumkan rencana demonstrasi besar-besaran untuk menolak kebijakan E20. Ribuan pengendara disebut siap turun ke jalan sebagai bentuk protes karena kini mereka tidak lagi memiliki pilihan bahan bakar lain di sejumlah SPBU.
Gelombang penolakan juga membanjiri media sosial X. Ratusan pengguna mengunggah pengalaman mereka terkait dugaan kerusakan komponen kendaraan setelah menggunakan bensin E20. Salah satu unggahan yang paling banyak mendapat perhatian datang dari Manish Kashyap. Video yang memperlihatkan mobilnya harus masuk bengkel telah ditonton lebih dari 500 ribu kali.