"Sisa makanan yang terbuang cukup banyak. Itu sangat disayangkan karena perilaku mubazir harus dihindari," katanya.

 

Faktor lain yang menjadi pertimbangan adalah kondisi ekonomi mayoritas orang tua siswa. Pihak sekolah menilai sebagian besar keluarga mampu menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak mereka, sehingga bantuan pemerintah dinilai lebih tepat diarahkan kepada sekolah yang siswanya lebih membutuhkan.

 

"Kami merasa masih banyak sekolah lain yang siswanya jauh lebih membutuhkan program makan bergizi ini," tambah Ikhsan.

 

Sebagai alternatif, SD Inovatif kembali mengoptimalkan program makan siang mandiri yang selama ini telah menjadi bagian dari budaya sekolah. Program tersebut dijalankan bersama dapur mitra dengan sistem penyajian makanan dalam wadah besar, sehingga siswa dapat mengambil porsi sesuai kebutuhan dan menambah makanan jika masih lapar.

 

Sekolah juga memiliki keleluasaan untuk mengevaluasi kualitas makanan, mengganti menu, hingga menyesuaikannya dengan masukan dari siswa maupun orang tua. Fleksibilitas itu dinilai menjadi keunggulan dibandingkan skema MBG yang seluruh menu dan mekanismenya telah diatur dalam petunjuk teknis pemerintah.