estoria.id — Sebanyak 96 siswa SMPN 6 Boyolali, Jawa Tengah, dilaporkan mengalami gejala sakit setelah menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Empat tenaga kependidikan, terdiri atas tiga guru dan satu petugas tata usaha (TU), juga mengalami keluhan serupa.
Kejadian tersebut diketahui pada Jumat (21/8/2026), sehari setelah menu MBG dibagikan kepada para siswa. Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali langsung menerjunkan tim dari Puskesmas Boyolali I untuk memeriksa kondisi para siswa.
Kepala Dinkes Boyolali, FX Kristandiyoko, mengatakan pihaknya memperoleh informasi mengenai sejumlah siswa yang mengalami gangguan kesehatan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Siswodipuran 2.
Tim kesehatan kemudian tiba di SMPN 6 Boyolali sekitar pukul 10.00 WIB. Dari 96 siswa yang terdata mengalami gejala, sebagian sudah kembali merasa sehat. Sementara 17 siswa masih merasakan keluhan dan harus menjalani pemeriksaan.
“Dari 96 orang itu, ada 17 yang masih merasakan tidak nyaman di badan. Baik itu mual, melilit, diare. Itu diperiksa oleh tim kesehatan dari Puskesmas Boyolali I,” kata Kristandiyoko kepada wartawan.
Ke-17 siswa tersebut telah mendapatkan pemeriksaan dan obat. Dinkes Boyolali juga masih melakukan pendataan terhadap siswa yang tidak masuk sekolah karena sakit untuk mengetahui jumlah kasus secara lebih rinci.
Sampel Makanan Diperiksa di Semarang
Dugaan gangguan kesehatan tersebut berkaitan dengan menu MBG yang dibagikan pada Kamis (20/8/2026). Makanan diterima siswa sekitar pukul 09.00 WIB, sedangkan sejumlah siswa mulai mengalami keluhan pada sore hari, sekitar pukul 16.00 WIB.
Gejala yang dilaporkan meliputi mulas, mual, perut terasa melilit, diare hingga pusing.
Menu yang dibagikan terdiri atas tahu pong, nasi putih, buah kelengkeng, kuah sup, serta sup manten. Hidangan sup tersebut berisi makaroni, jamur, wortel dan irisan ayam.
Namun, Dinkes Boyolali belum memastikan bahan makanan yang menjadi penyebab munculnya keluhan tersebut. Penyelidikan epidemiologis masih dilakukan, sementara sampel makanan telah dikirim ke Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) di Semarang.
Kristandiyoko mengatakan penyebabnya bisa berasal dari berbagai faktor, mulai dari proses pencucian bahan makanan, pengolahan hingga penyajian.
“Bisa saja itu prosesnya dalam pencucian, pada saat penyajian, dan sebagainya. Kalau waktu saji, sebenarnya masih dalam range normal karena masih pukul 09.00 WIB. Kami akan kaji lagi apa sebabnya,” ujarnya.
Ia mencontohkan kemungkinan kontaminasi bakteri seperti E. coli yang dapat berasal dari air maupun kebersihan tangan orang yang menangani makanan.
Guru Ikut Mengalami Diare
Tidak hanya siswa, empat tenaga kependidikan juga mengalami keluhan. Salah satunya Marsih, guru di SMPN 6 Boyolali, yang mengaku mengalami diare setelah selesai mengajar pada Jumat.
“Untuk guru yang sakit ada tiga, lalu TU ada satu orang. Kebetulan sehabis ngajar saya sendiri juga diare, kemudian sempat mendahului pulang tadi,” kata Marsih.
Marsih juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat mencium bau yang menurutnya tidak biasa dari beberapa bahan dalam menu sup, terutama ayam dan jamur.
"Ayamnya agak bau, ada baunya, sama jamurnya. Nah kebetulan saya juga tester, itu dikonsumsi guru dulu. Misal mencurigakan baru tidak dibagikan, kebetulan saya kemarin tidak apa-apa,” ujarnya.
Meski demikian, kondisi tersebut belum dapat menjadi bukti bahwa ayam atau jamur merupakan sumber penyebab sakitnya para siswa. Kepastian masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Satu Kelas Tak Mengalami Gejala
Ada fakta lain yang muncul dari kejadian tersebut. Marsih menyebut siswa kelas VIII E tidak mengalami keluhan seperti yang dialami siswa lainnya.
Menurutnya, kondisi itu diduga karena siswa di kelas tersebut tidak mengonsumsi makanan MBG yang dibagikan.
“Jadi siswa kelas VIII E mungkin buka [menu] tapi enggak suka, jadi enggak makan,” katanya.
Dinkes Boyolali masih melanjutkan penyelidikan untuk memastikan penyebab kejadian tersebut. Hasil pemeriksaan sampel makanan di Labkesmas Semarang akan menjadi salah satu dasar untuk menentukan apakah keluhan para siswa dan tenaga kependidikan memang berkaitan dengan menu MBG yang dikonsumsi sehari sebelumnya.