“Bangunan rumah sakit boleh bagus, tetapi kalau pelayanannya kurang baik, tentu pasien dan keluarga tetap kecewa. Pasien yang sedang menjalani perawatan membutuhkan perhatian dan penanganan yang cepat,” ujarnya.
Pernyataan itu menjadi kritik AR terhadap pelayanan yang ia alami. Menurut dia, fasilitas fisik yang memadai tidak akan cukup apabila tidak diimbangi kecepatan petugas dalam merespons kebutuhan pasien.
Keluhan tersebut muncul ketika RS BHC Sumenep masih menjadi perhatian publik menyusul kematian Dani pada Selasa (13/10/2026). Pasien berusia 22 tahun itu meninggal setelah menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.
Pihak keluarga sebelumnya mempertanyakan penanganan medis yang diterima Dani, termasuk kondisi kejang serta keluarnya busa dari mulut dan hidung sebelum meninggal dunia. Keluarga juga menginginkan penjelasan mengenai diagnosis dan tindakan medis yang diberikan selama perawatan.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat keterbukaan informasi medis menjadi isu penting dalam kasus ini. Bagi keluarga, penjelasan mengenai kronologi penanganan dan penyebab kematian diperlukan untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.