Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi identitas politik dan kebudayaannya.
Tidak mengherankan apabila setelah menjadi pejabat publik, Dedi tetap sering menggunakan simbol-simbol kehidupan masyarakat desa dan budaya Sunda dalam komunikasi politiknya.
Ayah Dedi Mulyadi
Sahlin Ahmad Suryana merupakan sosok penting dalam cerita keluarga Dedi Mulyadi.
Ia disebut pernah menjadi Tentara Prajurit Kader dan mengakhiri karier militernya pada usia relatif muda, sekitar 28 tahun. Setelah itu, Sahlin bersama Karsiti menjalani kehidupan sebagai keluarga petani.
Kisah ayahnya juga beberapa kali diceritakan kembali oleh Dedi melalui berbagai kesempatan. Sejumlah sumber menyebut adanya pengalaman pahit yang membuat sang ayah meninggalkan dunia kemiliteran lebih awal.