Kisah sederhana itu hingga kini masih dikenang para santri. Bukan hanya karena menunjukkan kepekaan batin Gus Dur yang kerap menjadi bahan perbincangan banyak orang, tetapi juga menggambarkan keakraban dua tokoh besar yang sama-sama dikenal cerdas dan memiliki selera humor tinggi.
Bagi para santri Annuqayah, cerita tersebut bukan sekadar anekdot. Kisah itu menjadi simbol hubungan erat antara dua ulama yang saling menghormati, saling menginspirasi, dan memiliki kepedulian besar terhadap umat.
Kini, setelah Gus Dur wafat pada 31 Desember 2009 dan KH Abdul Basith menyusul berpulang pada 13 Agustus 2026, kisah tersebut terasa jauh lebih bermakna. Ia bukan lagi sekadar cerita tentang dua sahabat yang saling bercanda, melainkan potret hubungan erat dua ulama yang sama-sama mendedikasikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan kemajuan umat.
KH Abdul Basith, Kiai Intelektual yang Menjembatani Tradisi dan Modernitas
KH Abdul Basith sendiri bukan sosok biasa dalam sejarah Annuqayah. Lahir di Sumenep pada 4 Juni 1944, beliau tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kuat sebagai putra KH Abdullah Sajjad. Sejak muda, ia dikenal memiliki kecintaan besar terhadap ilmu pengetahuan dan dunia literasi.