estoria.id – Gelombang unggahan bertajuk "Lapor Pak Prabowo, Kami Sudah Pindah ke Negara Lain" tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Ribuan warga negara Indonesia (WNI) yang kini menetap di luar negeri ramai-ramai mengunggah foto maupun video kehidupan mereka di negara tempat tinggal masing-masing dengan narasi bernada satire yang ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto.

 

Fenomena ini mencuat beberapa hari setelah pidato Presiden Prabowo dalam peringatan Hari Koperasi Nasional pada 12 Juli 2026. Dalam pidatonya, Prabowo menyampaikan bahwa masyarakat yang masih meragukan masa depan Indonesia dipersilakan mencari kehidupan di negara lain.

 

"Kalau ada yang masih ragu-ragu dengan masa depan bangsanya sendiri, atau menganggap Indonesia ini terlalu suram, silakan cari negara lain. Tidak ada yang melarang Anda untuk pergi mencari kehidupan di tempat lain. Tapi bagi yang percaya pada negeri ini, mari kita tetap di sini, bekerja keras di rumah kita sendiri," ujar Prabowo.

 

Pernyataan tersebut kemudian memicu beragam respons di ruang digital. Banyak diaspora Indonesia memanfaatkan media sosial untuk mengunggah pengalaman hidup mereka di luar negeri dengan kalimat pembuka yang hampir seragam, yakni "Lapor Pak Prabowo, kami sudah pindah ke negara lain."

 

Berdasarkan data analitik pemantauan media sosial yang dikutip AFU.id, lebih dari 42 ribu akun unik di platform X (Twitter) dan Threads ikut menyebarkan narasi tersebut. Tagar yang berkaitan dengan gerakan itu disebut telah menghasilkan sekitar 3,8 juta impresi, menjadikannya salah satu topik sosial-politik paling ramai diperbincangkan sepanjang pertengahan Juli 2026.

 

Analisis percakapan menunjukkan sekitar 72 persen unggahan berisi satire politik yang dikemas dalam bentuk humor, 18 persen merupakan ungkapan kekecewaan terhadap kondisi ekonomi domestik, sedangkan 10 persen lainnya berisi perdebatan antarwarganet.

 

Fenomena tersebut kemudian diwarnai beragam unggahan dari diaspora Indonesia yang mengaku telah menetap di berbagai negara. Salah satu unggahan yang paling banyak mendapat perhatian datang dari akun @pangeranmanurung.

 

"Lapor Pak Prabowo, kami sudah pindah ke negara lain. Ya udah Pak Prabowo. Sesuai instruksi Jenengan, kami pindah ke negara lain grakk.. and di sini verah pak. Saya tak mengatakan Indonesia suram tapi cemas," tulis akun tersebut, dikutip Rabu (22/07/2026).

 

Unggahan serupa kemudian diikuti akun @ninggarima yang mengaku bekerja sebagai petugas kebersihan di luar negeri.

 

"Hi pak presiden, aku udah kabur ke luar negeri nih, di sini kerja as cleaner gk di tanyain tinggi badan, lulusan apa, penting rajin, pensiun dapat, medical, mau libur kapan aja punya duit, walapun cuma cleaning service," tulisnya.

 

Sementara itu, akun @ali2upyan, yang mengaku bekerja di China, mengunggah foto di depan sebuah perusahaan lokal dengan keterangan, "Ya betul.. disini kami lebih dihormati oleh Xi Jinping."

 

Unggahan lain juga bermunculan dengan narasi yang beragam, seperti "Di sini cuaca cerah Pak, Indonesia terlalu suram," kemudian "Move to Norway, better for health," hingga "Lapor Pak, sudah di Jerman sesuai arahan Bapak" dan "Lapor Pak, di Australia gue lebih dihargai."

 

Tak hanya dari mereka yang sudah berada di luar negeri, sejumlah warganet di Indonesia juga mengaku memiliki keinginan untuk mengikuti jejak tersebut. Akun @yue_realize11 menulis bahwa dirinya masih bertahan di Indonesia karena harus mengurus sang ibu.

 

"Gw masih jadi WNI karena masih mau urus ibu dulu, nnti klo udah settle segala macemnya baru ke LN pindah kewarganegaraan rencananya. Harus kuat2 dulu utk sekarang," tulisnya.

 

Senada, akun @piala_talk menuliskan, "Rasanya pengen pindah juga seperti mereka, biar tidak menjadi beban disini takut diusir lagi sama presiden sendiri."

Sementara akun @guekimmy mengunggah satire dalam bentuk doa, "Allahumma inni as'aluka kabur ke luar negeri."

 

Di sisi lain, banyak warganet memberikan apresiasi kepada WNI yang dinilai berani mencari kehidupan di luar negeri. Akun @yesmar_banu menilai Indonesia memiliki banyak kelebihan, namun mengkritik perilaku para pejabat.

 

"Sebenarnya disini enak, iklim dan cuacanya, makanannya, wisata alamnya. Tapi yang buat ga betah adalah kelakuan para pejabatnya yg ga peka situasi rakyat, yang mentingkan diri sendiri dgn korupsi gede2an, dan rakyat jelata cuma dijadiin vote getter," tulisnya.


Akun @theycallmeY00 juga mengungkapkan kegelisahannya.

"Selamat buat para WNI yg mampu untuk kabur. Jujur disini masih banyak yg pengen, tapi karena tuntutan satu dan lain hal kami dipaksa bertahan. Di lubuk hati kami paling dalam, jengah sudah jadi WNI dengan keadaan begini," tulisnya.

 

Sementara akun @JavaJimmyMaukar menuliskan, "Bangga banget melihat kalian bisa bersinar di luar, bukan di tanah air yang penuh KKN."

 

Di balik ramainya unggahan tersebut, data pemerintah menunjukkan tren perpindahan WNI ke luar negeri memang mengalami peningkatan. Berdasarkan data konsolidasi Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU) dan Direktorat Jenderal Imigrasi, sepanjang Januari hingga pertengahan Juli 2026 tercatat 784 WNI secara resmi melepaskan status kewarganegaraan Indonesia atas permohonan sendiri. 

 

Dalam lima tahun terakhir, jumlah perpindahan kewarganegaraan mencapai sekitar 8.600 orang.

Selain itu, Ditjen Imigrasi juga mencatat sekitar 14.200 paspor diterbitkan selama semester pertama 2026 dengan dokumen pendukung long-term visa atau permanent residency, yang menunjukkan meningkatnya minat WNI untuk bekerja maupun menetap di luar negeri.

 

 

Data Surat Keterangan Pindah Luar Negeri (SKPLN) dan registrasi Portal Peduli WNI Kementerian Luar Negeri menunjukkan Singapura menjadi tujuan utama para profesional Indonesia, disusul Australia, Jerman, Belanda, Jepang, Korea Selatan, serta Norwegia dan sejumlah negara Nordik yang menawarkan kualitas hidup, jaminan sosial, dan keseimbangan kerja yang lebih baik.

 

Fenomena "Lapor Pak Prabowo" pun dinilai banyak warganet sebagai bentuk kritik sosial yang dikemas melalui satire. Di tengah derasnya arus percakapan digital, unggahan-unggahan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mencerminkan keresahan sebagian masyarakat mengenai lapangan kerja, kesejahteraan, hingga peluang hidup yang dianggap lebih menjanjikan di luar negeri.