Dr. Andreas menjelaskan bahwa pada sebagian masyarakat Barat, obesitas memang menjadi penyebab utama sleep apnea. Namun, pada masyarakat Indonesia, orang dengan tubuh tidak terlalu gemuk pun tetap berisiko mengalami gangguan ini karena faktor struktur wajah dan saluran napas.

 

Ia juga mengingatkan bahaya kesalahpahaman yang sering terjadi. Banyak orang mengira ngorok hanya disebabkan oleh kelebihan berat badan sehingga memilih langsung berolahraga untuk menurunkan berat badan tanpa memeriksakan diri terlebih dahulu.

 

Padahal, seseorang yang mengalami sleep apnea sebenarnya sudah membuat jantungnya bekerja sangat keras selama tidur. Jika setelah bangun langsung melakukan aktivitas fisik berat, risiko terjadinya serangan jantung bisa meningkat.

 

"Tanpa sadar bahwa pada saat tidur, jantungnya kerja keras, terus olahraga, ya serangan jantung. Ini banyak, sering terjadi," jelasnya.

 

Karena itu, dr. Andreas mengimbau masyarakat agar tidak menganggap remeh kebiasaan mendengkur, terlebih jika disertai henti napas, tersedak saat tidur, atau rasa mengantuk berlebihan di siang hari.