estoria.id – Kebiasaan mendengkur saat tidur sering dianggap hal yang wajar, terutama setelah menjalani aktivitas yang melelahkan. Namun, para ahli mengingatkan bahwa ngorok yang disertai henti napas berulang bisa menjadi tanda sleep apnea, gangguan tidur serius yang berpotensi mengancam nyawa.

 

Dokter spesialis kesehatan tidur, dr. Andreas Prasadja, RPSGT, menjelaskan bahwa sleep apnea merupakan kondisi ketika saluran napas tersumbat sehingga napas seseorang berhenti berulang kali saat tidur. Kondisi ini membuat tubuh kekurangan oksigen dan memaksa organ vital, terutama jantung, bekerja lebih keras sepanjang malam.

 

"Makanya sleep apnea disebut sebagai silent killer," ujar dr. Andreas dalam acara detikSore, Senin (27/07/2026).

 

Menurutnya, penyebab sleep apnea tidak selalu mudah dikenali. Pada masyarakat Asia, termasuk Indonesia, bentuk rahang yang relatif sempit dan leher yang lebih pendek membuat risiko penyempitan saluran napas saat tidur menjadi lebih besar.

 

Selain faktor anatomi tubuh, gaya hidup juga berperan memperburuk kondisi tersebut. Obesitas, pertambahan usia, hingga kebiasaan merokok dapat menyebabkan saluran napas mengalami pembengkakan dan kerusakan saraf sehingga menjadi lebih lunak. Saat tubuh tertidur dan otot-otot rileks, saluran napas pun lebih mudah tertutup.

 

Dr. Andreas menjelaskan bahwa pada sebagian masyarakat Barat, obesitas memang menjadi penyebab utama sleep apnea. Namun, pada masyarakat Indonesia, orang dengan tubuh tidak terlalu gemuk pun tetap berisiko mengalami gangguan ini karena faktor struktur wajah dan saluran napas.

 

Ia juga mengingatkan bahaya kesalahpahaman yang sering terjadi. Banyak orang mengira ngorok hanya disebabkan oleh kelebihan berat badan sehingga memilih langsung berolahraga untuk menurunkan berat badan tanpa memeriksakan diri terlebih dahulu.

 

Padahal, seseorang yang mengalami sleep apnea sebenarnya sudah membuat jantungnya bekerja sangat keras selama tidur. Jika setelah bangun langsung melakukan aktivitas fisik berat, risiko terjadinya serangan jantung bisa meningkat.

 

"Tanpa sadar bahwa pada saat tidur, jantungnya kerja keras, terus olahraga, ya serangan jantung. Ini banyak, sering terjadi," jelasnya.

 

Karena itu, dr. Andreas mengimbau masyarakat agar tidak menganggap remeh kebiasaan mendengkur, terlebih jika disertai henti napas, tersedak saat tidur, atau rasa mengantuk berlebihan di siang hari.

 

Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan apakah ngorok yang dialami merupakan gejala sleep apnea sehingga dapat ditangani sedini mungkin sebelum menimbulkan komplikasi yang lebih serius, bahkan kematian.