estoria.id – Keputusan Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) menandai berakhirnya perjalanan panjang salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah bank sentral Indonesia. Setelah lebih dari 42 tahun mengabdi, sosok yang dikenal sebagai arsitek transformasi sistem pembayaran digital nasional itu resmi menutup kiprahnya di BI.
Nama Perry Warjiyo tidak bisa dilepaskan dari berbagai kebijakan strategis yang mengubah wajah sistem keuangan Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, Bank Indonesia tidak hanya menjaga stabilitas moneter, tetapi juga mempercepat digitalisasi transaksi melalui lahirnya Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan Bank Indonesia Fast Payment (BI-FAST).
Lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, pada 1959, Perry menempuh pendidikan Sarjana di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) sebelum melanjutkan studi ke Iowa State University, Amerika Serikat. Di kampus tersebut ia meraih gelar Master pada 1989 dan doktor (Ph.D.) pada 1991 di bidang ekonomi.
Kariernya di Bank Indonesia dimulai pada 1984. Selama puluhan tahun, Perry dipercaya mengisi berbagai jabatan penting, mulai dari bidang riset ekonomi, kebijakan moneter, hubungan internasional, hingga kebijakan makroprudensial. Ia juga pernah menjabat sebagai Direktur Eksekutif International Monetary Fund (IMF) pada periode 2007–2009 yang mewakili 13 negara dalam South-East Asia Voting Group.
Sekembalinya ke Indonesia, Perry diangkat sebagai Deputi Gubernur BI pada 2013 dan kemudian resmi menjadi Gubernur Bank Indonesia pada 2018 menggantikan Agus Martowardojo.
Selama memimpin BI, Perry dikenal mengusung kebijakan yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sistem keuangan. Di tengah berbagai tantangan global, mulai dari perlambatan ekonomi hingga pandemi Covid-19, ia memperkuat koordinasi antara Bank Indonesia dan pemerintah untuk menjaga daya tahan ekonomi nasional.
Salah satu warisan terbesarnya adalah peluncuran QRIS pada 2019. Standar nasional pembayaran berbasis kode QR itu berhasil menyatukan berbagai layanan pembayaran digital sehingga transaksi menjadi lebih cepat, praktis, aman, dan efisien. Kini QRIS digunakan secara luas oleh jutaan pelaku UMKM, pedagang pasar, hingga perusahaan besar di seluruh Indonesia.
Tak berhenti di sana, Perry juga menjadi sosok penting di balik lahirnya BI-FAST, sistem pembayaran ritel nasional yang dikembangkan Bank Indonesia sebagai implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025. Layanan tersebut resmi diluncurkan pada 21 Desember 2021 dan dirancang untuk menghadirkan transfer dana secara real-time dengan biaya yang jauh lebih murah dibandingkan layanan transfer bank sebelumnya.
Melalui BI-FAST, biaya transfer antarbank bagi nasabah dibatasi maksimal Rp2.500 per transaksi, sehingga mendorong efisiensi transaksi keuangan masyarakat. Infrastruktur sistem ini didukung teknologi pembayaran modern yang dikembangkan bersama mitra teknologi global, termasuk ACI Worldwide, sehingga mampu menghadirkan layanan transfer yang cepat, aman, dan tersedia hampir setiap saat.
Kehadiran QRIS dan BI-FAST menjadi tonggak penting dalam transformasi sistem pembayaran Indonesia menuju era digital yang lebih inklusif. Kedua inovasi tersebut dinilai berhasil memperluas akses layanan keuangan digital bagi masyarakat sekaligus meningkatkan efisiensi transaksi nasional.
Selain mendorong digitalisasi pembayaran, Perry juga berperan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai kebijakan moneter, penguatan cadangan devisa, stabilisasi pasar keuangan, serta koordinasi dengan pemerintah dalam menjaga ketahanan ekonomi.
Dengan masa pengabdian sekitar 42 tahun, Perry Warjiyo meninggalkan jejak besar dalam sejarah Bank Indonesia. Meski memilih mengakhiri masa jabatannya lebih awal, berbagai kebijakan, reformasi, serta inovasi yang lahir di bawah kepemimpinannya diperkirakan akan terus menjadi fondasi penting bagi sistem keuangan dan perekonomian Indonesia di masa mendatang.