Melalui program tersebut, para jemaah tidak mengikuti mabit di Muzdalifah maupun Mina. Langkah itu diambil untuk mengurangi risiko kesehatan mengingat kondisi fisik mereka yang membutuhkan pemantauan lebih intensif.

 

Menurut Halimy, sebagian besar peserta tanazul merupakan jemaah lanjut usia yang memiliki riwayat penyakit atau keterbatasan fisik. Faktor usia menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pemberian layanan tersebut.

“Mayoritas memang jemaah yang sudah lanjut usia dan perlu perhatian khusus selama menjalankan ibadah haji,” katanya.

 

Saat ini, Kemenhaj Sumenep masih berkoordinasi dengan petugas haji di Arab Saudi guna memperoleh keterangan lebih lengkap terkait penyebab wafatnya almarhum.