"Entah dipasang oleh siapa, tapi ini adalah kejadian yang sangat menjijikkan," ujarnya.
Tiyo bahkan mengaitkan temuan itu dengan situasi demokrasi yang menurutnya semakin tidak ramah terhadap kritik. Ia menilai suara-suara yang disampaikan demi perbaikan bangsa justru berpotensi dibalas dengan intimidasi.
"Kita yang mengkritik untuk perbaikan bangsa dengan ketulusan cinta justru dibalas dengan ancaman dan marabahaya," katanya.
Temuan ini menambah daftar panjang dugaan tekanan yang pernah dialami Tiyo. Pada Februari lalu, ia mengaku menerima serangkaian teror setelah dirinya bersama pengurus BEM UGM mengirim surat kepada UNICEF terkait kasus bunuh diri anak di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Konteks kemunculan alat pelacak tersebut juga tak bisa dilepaskan dari aksi demonstrasi yang berlangsung di Gejayan pada hari yang sama. Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Memanggil memadati simpang tiga Gejayan, Sleman, membawa sedikitnya sepuluh tuntutan kepada pemerintah.