estoria.id - Isu dugaan kudeta mendadak menjadi sorotan di Iran setelah kelompok garis keras secara terbuka menuding para petinggi pemerintahan tengah menjalankan upaya perebutan kekuasaan secara perlahan di tengah memanasnya konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Tuduhan tersebut mencuat saat prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di Teheran pada awal Juli. Sejumlah pejabat tinggi yang hadir justru menjadi sasaran kemarahan massa karena dianggap mengkhianati cita-cita Revolusi Islam.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menjadi salah satu tokoh yang paling disorot. Ia dilaporkan dilempari batu dan diteriaki sebagai "pengkhianat" oleh massa. Araghchi selama ini dikenal sebagai salah satu negosiator utama Iran dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat bersama Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.
Presiden Masoud Pezeshkian juga tak luput dari amarah kelompok garis keras. Saat mengiringi peti jenazah Ali Khamenei, ia diteriaki "matilah si pengkhianat" oleh sejumlah pelayat yang menilai pemerintah tengah menjauh dari prinsip-prinsip revolusi.
Kelompok garis keras menuduh pemerintahan yang kini berjalan memanfaatkan situasi pascaperang untuk mengonsolidasikan kekuasaan. Mereka meyakini para pejabat yang aktif melakukan negosiasi dengan Washington sedang menjalankan "kudeta lunak" terhadap Republik Islam.