Kecurigaan itu semakin menguat setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, tidak muncul di hadapan publik. Ketidakhadirannya memicu spekulasi bahwa akses terhadap pemimpin tertinggi telah dibatasi sehingga kendali pemerintahan berada di tangan elite politik yang dipimpin Ghalibaf, Pezeshkian, dan Araghchi.
Anggota parlemen garis keras Mahmoud Nabavian bahkan secara terbuka mempertanyakan kemungkinan terjadinya kudeta. Menjelang pemakaman, ia mengeluarkan peringatan kepada rakyat Iran dengan mempertanyakan apakah perebutan kekuasaan akan segera terjadi.
Setelah pemakaman, Nabavian kembali menyerukan perlawanan terhadap apa yang disebutnya sebagai upaya kudeta, sembari mengajak pendukung garis keras mempertahankan kepemimpinan Republik Islam.
Analis politik Iran, Arash Azizi, menilai tudingan kudeta berakar pada kekhawatiran kelompok konservatif yang merasa kehilangan pengaruh terhadap pusat kekuasaan. Menurutnya, absennya Mojtaba Khamenei membuat Ghalibaf, Pezeshkian, dan Araghchi dipersepsikan sebagai figur yang kini memegang kendali pemerintahan, sehingga memicu tuduhan adanya upaya mengambil alih kekuasaan.
Hingga kini, tuduhan mengenai adanya kudeta tersebut belum disertai bukti resmi. Namun, polemik itu memperlihatkan semakin tajamnya persaingan politik di tubuh elite Iran pada masa transisi kepemimpinan dan di tengah ketegangan kawasan yang terus meningkat.