ESTORIA - Setiap presiden memiliki kebijakan unggulan yang menjadi penanda zamannya. Ada yang membangun monumen ikonik, memindahkan jutaan penduduk, mengembangkan industri strategis, hingga menggelontorkan anggaran ratusan triliun rupiah untuk program sosial.

 

Di era Presiden Soekarno, pemerintah menjalankan Politik Mercusuar, yakni strategi pembangunan proyek-proyek monumental untuk memperkuat citra Indonesia sebagai negara besar di mata dunia. 

 

Sejumlah ikon nasional lahir pada masa ini, seperti Monumen Nasional (Monas), Gedung Sarinah, Gelora Bung Karno (GBK), Jembatan Semanggi, Hotel Indonesia, hingga TVRI. Pembangunan tersebut didukung dana kompensasi Jepang sebesar US$223,08 juta dan pinjaman luar negeri senilai US$80 juta.

 

Memasuki pemerintahan Presiden Soeharto, fokus pembangunan bergeser pada pemerataan penduduk melalui program transmigrasi. Pada periode 1979–1984, sekitar 2,5 juta jiwa dipindahkan dari Pulau Jawa dan Bali menuju Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. 

 

Program tersebut dibiayai melalui kombinasi pinjaman World Bank sebesar US$160 juta, anggaran pemerintah sekitar US$200 juta, serta pinjaman Export-Import Bank Amerika Serikat sebesar US$23,7 juta.