ESTORIA - Setelah sempat terpuruk ke level terlemah dalam sejarah, rupiah menunjukkan sinyal pemulihan yang kuat. Pada penutupan perdagangan Jumat (12/06/2026), mata uang Garuda berhasil menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat dan menjauh dari ambang psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp17.865 per dolar AS, menguat 0,61% dibandingkan posisi sehari sebelumnya. Penguatan ini melengkapi tren pemulihan yang mulai terlihat dalam beberapa hari terakhir setelah tekanan hebat yang sempat mengguncang pasar keuangan domestik.
Sepanjang perdagangan, performa rupiah bahkan sempat lebih impresif. Pada pukul 14.06 WIB, nilai tukar tercatat berada di Rp17.845 per dolar AS atau menguat 0,72%. Angka tersebut menarik perhatian karena bertepatan dengan tanggal kemerdekaan Indonesia, 17-8-45.
Kondisi saat ini berbanding terbalik dengan situasi awal pekan. Pada Senin (08/06/2026), rupiah sempat terjerembab hingga Rp18.190 per dolar AS, hanya terpaut tipis dari level Rp18.200 yang menjadi batas psikologis berikutnya. Saat itu, kekhawatiran pasar terhadap tekanan eksternal dan derasnya arus modal keluar membuat mata uang domestik berada dalam posisi yang sangat rentan.
Namun, arah pergerakan mulai berubah setelah Bank Indonesia mengambil langkah yang dianggap tegas oleh pelaku pasar. Pada Selasa (09/06/2026), bank sentral secara mengejutkan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur mingguan dengan keputusan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%.