Ia menjelaskan, seluruh benih yang dikembangkan telah mengantongi sertifikasi resmi dari UPT Pengawasan dan Sertifikasi Benih Perkebunan Provinsi Jawa Timur. Saat ini, sedikitnya 56 ribu bibit kelapa bersertifikat telah tersedia untuk memenuhi kebutuhan petani maupun program pengembangan perkebunan di berbagai daerah.

 

Menurut Hadi, kualitas bibit menjadi kunci utama keberhasilan hilirisasi perkebunan. Pasalnya, industri pengolahan membutuhkan pasokan bahan baku yang tidak hanya melimpah, tetapi juga memiliki mutu yang baik dan konsisten.

 

“Kalau bibitnya bagus dan terjamin, otomatis hasil perkebunan masyarakat juga akan lebih bagus. Ini penting karena hilirisasi tidak akan berjalan maksimal tanpa dukungan bahan baku yang berkualitas,” katanya.

 

Lebih jauh, Hadi melihat program hilirisasi yang tengah dipercepat pemerintah sebagai peluang besar bagi daerah penghasil kelapa seperti Sumenep. Beragam produk turunan dapat dikembangkan dari komoditas tersebut, mulai dari minyak kelapa, produk pangan olahan, hingga bahan baku industri yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan penjualan buah kelapa segar.

 

“Ke depan, kelapa bukan hanya dijual buahnya saja. Banyak produk turunan yang bisa dikembangkan, mulai dari minyak kelapa, olahan pangan, sampai produk industri lainnya. Itu yang sekarang mulai didorong pemerintah,” ungkapnya.