Namun perjalanan Munas-Konbes NU tahun ini tidak berhenti di Kediri. Setelah menyelesaikan seluruh agenda persidangan, ribuan peserta akan bergerak menuju Bangkalan, Madura, untuk mengikuti prosesi penutupan yang sarat makna historis.
Bagi NU, Bangkalan bukan sekadar sebuah daerah di Pulau Madura. Kota ini menyimpan jejak penting yang menjadi bagian dari kisah lahirnya Nahdlatul Ulama.
Kiai Said menjelaskan, pemindahan lokasi penutupan ke Bangkalan dimaksudkan sebagai upaya menghidupkan kembali memori kolektif warga NU, khususnya generasi muda, terhadap sejarah perjuangan para pendiri organisasi.
“Titik awal sejarah NU memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan Bangkalan. Ada nilai historis sekaligus ruh spiritual yang perlu terus diwariskan kepada generasi penerus,” katanya.
Bangkalan dikenal sebagai tempat berkiprah Syaikhona Muhammad Cholil, ulama kharismatik yang memiliki peran besar dalam lahirnya Nahdlatul Ulama. Dalam catatan sejarah NU, Syaikhona Kholil disebut memberikan tongkat dan tasbih kepada KH Hasyim Asy’ari sebagai simbol restu sekaligus isyarat untuk mendirikan organisasi yang kemudian bernama Nahdlatul Ulama.
Peristiwa tersebut hingga kini diyakini sebagai salah satu momentum spiritual yang mengawali lahirnya NU pada 1926.
Karena itu, penutupan Munas-Konbes di lingkungan IAI Syaichona Kholil Bangkalan dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap mata rantai sejarah dan perjuangan para muassis yang telah meletakkan fondasi organisasi.
Dalam rangkaian penutupan nanti, peserta dijadwalkan mengikuti mujahadah dan tawasul bersama untuk mendoakan para pendiri NU sekaligus memohon keberkahan bagi perjalanan organisasi dan bangsa Indonesia.
Melalui doa-doa yang dipanjatkan di tanah yang lekat dengan jejak Syaikhona Kholil tersebut, para peserta berharap NU terus diberikan kekuatan untuk menjaga persatuan umat, merawat nilai-nilai kebangsaan, dan mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.