estoria.id — Perjalanan Aris Sanda di jalur Trans Papua Wamena-Nduga berakhir tragis. Sopir asal Toraja itu dilaporkan tewas ditembak kelompok bersenjata yang dikaitkan dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) atau OPM pimpinan Egianus Kogoya, Selasa (15/9/2026).

 

Sebelum tewas, Aris disebut sempat disandera dan dipaksa membuat pernyataan yang mendukung gerakan Papua Merdeka. Pernyataan tersebut kemudian beredar di media sosial dan menjadi salah satu rekaman yang memperlihatkan situasi intimidatif yang dialaminya.

 

Dalam video itu, Aris terlihat memegang bendera Bintang Kejora. Di dekatnya tampak seorang pria menodongkan senjata api. Aris terlihat ketakutan dan membaca pernyataan dengan terbata-bata.

 

Ia menyampaikan sejumlah pernyataan mengenai Papua, termasuk dukungan terhadap kemerdekaan Papua.

 

“Karena Papua ini bagian dari negara yang sudah besar. Jadi jangan bilang Papua tidak bisa merdeka. Bisa! Saya memang juga mendukung.”

 

Aris juga menyampaikan kritik terhadap pemerintah Indonesia. Dalam pernyataan yang dibacanya, ia mengatakan pemerintah dinilai tidak cukup mengetahui kondisi dan penderitaan masyarakat Papua di wilayah konflik.

 

“Karena pemerintah cuma tahu saja di sana, di Jakarta. Di sini tidak pernah bilang mau memperhatikan Papua, saya dukung jadi Papua itu harus merdeka.”

 

Aris kemudian menyebut dirinya telah bekerja sebagai sopir di wilayah tersebut sejak 2013. Ia mengatakan tetap menjalani aktivitasnya karena mengetahui kondisi masyarakat setempat.

 

“Jadi saya sebagai pendatang, terutama sebagai sopir ini, dari dulu saya sudah melayani dari 2013 sampai sekarang, sampai 2026, saya masih jalan di sini karena saya percaya Papua itu bisa merdeka.”

 

Dalam rekaman tersebut, Aris juga menyampaikan bahwa persoalan Papua tidak cukup dilihat hanya berdasarkan data pemerintah di Jakarta.

 

“Wajar Papua merdeka karena mereka semua itu punya prinsip ingin Papua merdeka, saya dukung. Saya sebagai pendatang tapi saya mendukung semuanya Papua merdeka, karena di Jakarta saya cuma tahu saja di data pemerintah ini orang di sini. Kami sudah lama di sini, jadi kami tahu sudah masalah di sini.”

 

Dibawa dari Wamena Menuju Mbua

Peristiwa itu terjadi ketika Aris membawa sejumlah penumpang dari Wamena menuju Mbua. Kendaraan yang dikemudikannya melintas di kawasan tanjakan Gunung Boy.

 

Sejumlah penumpang berada di dalam kendaraan tersebut. Mereka antara lain Pendeta TH (38), Ns (23), Ps (32), Se (26), Yt (18), Gr (11), Sa (13), serta Di dan Si.

Di tengah perjalanan, para penumpang disebut diperintahkan turun dan diarahkan menuju Napua. Sebagian di antaranya kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan ojek.

 

Situasi berubah tegang ketika kelompok bersenjata tersebut melakukan intimidasi. Para penumpang disebut mendapat ancaman akan ditembak maupun dipotong apabila tidak mengikuti perintah.

 

Warga lokal akhirnya dilepaskan. Namun Aris, yang merupakan warga pendatang asal Toraja, tetap ditahan.

Tak lama setelah itu, Aris dilaporkan ditembak hingga meninggal dunia.

 

Satgas Masih Selidiki

 

Satgas Operasi Damai Cartenz membenarkan adanya peristiwa penembakan tersebut. Aparat masih melakukan penyelidikan dan bergerak menuju lokasi kejadian.

 

Kasatgas Humas Ops Damai Cartenz Kombes Pol Yusuf Sutejo mengatakan personel masih berada di lapangan ketika dikonfirmasi pada Rabu (16/9/2026).

 

"Benar. Kemarin kejadiannya, anggota masih bergerak ke lapangan dan belum kembali," kata Yusuf saat dikonfirmasi Afu.id, Rabu (16/9/2026).

 

Sementara itu, pihak TPNPB OPM melalui juru bicaranya, Sebby Sambom, membenarkan adanya penyanderaan dan penembakan tersebut.

 

Sebby menyebut TPNPB Kodap III Ndugama Derakma bertanggung jawab atas kejadian itu. Menurut klaim pihak TPNPB, Aris dituding sebagai agen intelijen militer yang menyamar sebagai sopir.

 

"Manajemen Markas Pusat Komnas TPNPB telah menerima laporan resmi dari Panglima TPNPB OPM Kodap III Ndugama Brigjen Egianus Kogoya bahwa kami bertanggung jawab atas penembakan agen militer berprofesi sebagai tukang sopir di jalur Trans Wamena-Nduga," ujar Sebby.

 

Sebby juga menyampaikan peringatan kepada warga pendatang yang bekerja di wilayah tersebut, khususnya mereka yang berprofesi sebagai sopir, pengemudi ojek maupun aparatur sipil negara.

 

"Oleh sebab itu, kami sampaikan kepada warga imigran Indonesia yang bekerja sebagai tukang ojek, sopir taksi dan ASN agar hentikan aktivitasnya," katanya.

 

Hingga kini, aparat masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap kronologi lengkap penembakan Aris Sanda, termasuk kondisi di lokasi kejadian serta pihak-pihak yang terlibat dalam insiden tersebut.