estoria.id - “Maju terus, Mbak.” Sambil tersenyum, diikuti tangan kanannya yang memberikan aba-aba kepada pengunjung kafe agar tidak meletakkan asal tempat. Sebagai tukang parkir, dia adalah sosok yang mempunyai kuasa bagi pengunjungnya di tempat parkir itu. Pengunjung kafe Kopi mayoritas dari kalangan mahasisawa. Ia masih muda. Umurnya kurang lebih dua puluh dua tahunan kira-kira. Ia berkinginan melanjutkan pendidikannya sebenarnya. Tapi karena keadaan yang tidak mendukung, akhirnya dia memilih merantau dan menjadi tukang parkir di salah satu kafe warung kopi di Jogja.
Tukang parkir itu menghampirinya. Dia pun menyodorkan kertas kecil putih kepada pengunjung yang bertuliskan “Karcis Parkir”. Di bawahnya lagi bertulisakan angka Rp.2.000. Hitam. Besar.
“Jangan kunci settang ya…” kata Tukang Parkir itu kepada pengunjung kafe. Diikuti senyumannya. Giginya yang agak maju kedepan, membuat pengunjung itu ikut tersenyum. Bukan karena ia murah senyum, melainkan karena tukang parkir itu selalu memberikan senyuman kepada setiap pengunjung kafe. Maka ia harus tersenyum dengan senyuman yang dipaksakan.
“Langsung bayar, Kang?” tanyanya kepada tukang parkir itu. Mulutnya yang menggigit peluit, dia hanya mengangguk saja, sibuk memberikan aba-aba bagi pengunjung lainnya yang baru datang. Kemudian pengunjug itu mengeluarkan uang receh dari saku tas kecilnya. Membalas sedikit senyuman kepadanya, lalu pergi.
Semua pengunjung kafe nurut kepada tukang parkir itu. Tidak ada yang berani membantahnya. Semua motor berbaris dengan rapi. Ratusan motor dipasrahkan kepadanya. Untuk sementara waktu, selama pengunjung masih ngopi di kafe, ia adalah pemilik motor-motor itu. Meskipun ya, pada kenyataannya motor-motor itu hanya titipan yang harus dijaga olehnya.
Pernah suatu malam sekitar jam sepuluan pengunjung kafe hendak beranjak pulang degan buru-buru. Tampaknya dalam keadaan marah. Entah marah kepada siapa. Kebetulan tukang parkir masih di luar mengawal para pengunjung kafe untuk markir dengan rapi. Tukang parkir itu merentangkan tangan kanan memberikan aba-aba agar mengalah kepada pengunjung yang hendak pergi, untuk memberikan ruang masuk kepada pengunjung yang baru datang. Tiba-tiba wajah itu memerah. Merasa tidak terima kepada tukang parkir yang telah menghadangnya. Dengan mata mebulat, kemarahan muncul penuh lewat tarikan gas motornya yang menggelegar diikuti tarikan klakson panjang . Semua mata pengunjung kafe yang ada di dalam mebuat terbelalak melihat keluar. Ia pun tetap memainkan gas motor yang diikuti klakson panjang. Tukang parkir itu tidak menggubrisnya. Ia tetap merentangkan tangan kanannya dan mempersilahkan masuk kepada pengunjung yang baru datang.